![]() |
| Foto : Lapangan tempat festival Beu Nyale digelar |
LOMBOK TIMUR, IndepthNTB – Festival Bau Nyale di Pantai Kaliantan, Desa Seriwe, Lombok Timur, terancam terganggu akibat banjir yang masih meluas. Lapangan utama tempat panggung hiburan dan lapak pedagang festival kini terendam, memicu kekhawatiran akan sepi pengunjung. Lapangan utama yang biasa dijadikan lokasi panggung hiburan dan lapak pedagang untuk festival tahunan tersebut kini terendam banjir.
Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan warga setempat bahwa festival yang biasanya ramai dikunjungi akan menjadi sepi.
Warga Kaliantan Nurudin menuturkan, banjir yang terjadi di Kaliantan telah berlangsung selama lebih dari satu bulan. Banjir terlebih dahulu merendam lahan pertanian jagung, kemudian perlahan memasuki pemukiman warga dan lapangan yang biasa dijadikan tempat pestival bau nyale.
"Lahan jagung terendam banjir sejak sebulan lalu, sementara pemukiman telah berlangsung dua minggu. Parahnya semakin hari air semakin naik," tutur Nurudin, Senin (3/2/26).
Dampak banjir yang berlarut dan tidak tertangani ini menyebabkan seluruh area lapangan sudah kebanjiran, kondisi ini memaksa pedagang menggeser lapak mereka.
"Setiap tahun festival digelar di sini. Tapi kalau banjir terus begini, siapa yang mau datang?". Saya berjualan di sini, tapi kondisinya masih sepi. Bagaimana tidak sepi? Lapangan utama saja banjir, akses jalan ke sini juga tergenang," ujar Mahni salah seorang pedagang.
Tidak hanya mengancam kegiatan wisata, banjir yang telah berlangsung lebih dari dua minggu ini juga semakin meluas ke pemukiman warga di Dusun Kaliantan. Puluhan rumah terendam, dengan ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Sebagian warga memilih mengungsi karena air telah masuk ke dalam rumah.
Ia juga menyebutkan aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh dan lahan pertanian telah terendam selama sebulan. Dampak banjir juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Samsul Hadi, warga lainnya, mengatakan anak-anak di desanya tidak berani berangkat sekolah karena akses jalan dan lingkungan sekolah juga tergenang air.
"Lingkungan sudah kumuh, ditambah banjir membawa sampah dan kotoran hewan. Kami khawatir anak-anak bisa terkena penyakit kulit," keluhnya.
Warga menilai banjir diperparah oleh tidak adanya saluran pembuangan yang memadai di Bendungan Embung Bedah. Intensitas hujan tinggi, bendungan langsung meluap karena tidak ada jalur pembuangannya.
"Kami minta pemerintah segera bertindak, jangan tunggu kami tenggelam dulu," desak Samsul Hadi warga Kaliantan.(INTB)
