Peringatan Keras Iran untuk Trump - "Kami Tidak Akan Membiarkan Anda Lolos Sebelum Membayar Harga"


TEHERAN, IndepthNTB – Di tengah peperangan yang telah memasuki hari ke-14, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, melontarkan tantangan terbuka dan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pernyataan yang diunggah di platform X pada Kamis (12/3/2026), Larijani menegaskan bahwa Iran tidak akan menghentikan perlawanannya sebelum Trump mengakui kesalahan dan membayar harga atas apa yang disebutnya sebagai "kesalahan perhitungan yang serius".

"Trump mengatakan dia mencari kemenangan cepat. Memulai perang itu mudah, tetapi mengakhirinya tidak bisa dilakukan hanya dengan mengunggah beberapa cuitan. Kami tidak akan membiarkan Anda lolos sampai Anda mengakui kesalahan dan membayar harga atasnya," tulis Larijani, mengakhiri pesannya dengan tagar #TrumpMustPay.

Pernyataan ini menjadi tantangan paling keras dari pejabat tinggi Iran sejak serangan gabungan AS-Israel diluncurkan pada 28 Februari lalu, yang menyebabkan gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan lebih dari 1.200 korban jiwa lainnya, termasuk hampir 200 siswi yang tewas dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Iran selatan .

Ancaman "Mematikan Lampu" di Seluruh Kawasan

Dalam pernyataan yang lebih gamblang, Larijani juga mengancam akan menargetkan jaringan listrik di kawasan jika Amerika Serikat menyerang pasokan listrik Republik Islam tersebut. Peringatan ini merupakan respons atas pernyataan Trump sebelumnya yang mengatakan bahwa pasukan AS dapat melumpuhkan pasokan listrik Iran "dalam waktu satu jam" dan meninggalkan negara itu dengan rekonstruksi yang bisa memakan waktu satu generasi .

"Jika mereka melakukan itu, seluruh kawasan akan gelap dalam waktu kurang dari setengah jam dan kegelapan memberikan peluang besar untuk memburu personel AS yang berlari menyelamatkan diri," kata Larijani .

Juru bicara markas komando militer Iran, Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, juga menambahkan ancaman serupa terkait infrastruktur energi. "Kami akan membakar minyak dan gas kawasan dengan serangan sekecil apa pun terhadap infrastruktur energi dan pelabuhan Iran," ujarnya .

Sinyal Perang Trump yang Membingungkan

Peringatan keras dari Teheran ini datang di tengah kebingungan sekutu AS sendiri mengenai tujuan akhir perang yang dilancarkan Trump. Menurut laporan Axios yang dikutip Al Mayadeen, dalam panggilan video dengan para pemimpin G7 pada Rabu, Trump memberikan sinyal yang "ambigu dan tidak mengikat." Beberapa peserta mengira ia ingin mengakhiri perang, sementara yang lain merasakan sebaliknya .

Presiden Prancis Emmanuel Macron secara terbuka menyatakan apa yang dikatakan secara pribadi oleh para pemimpin lainnya: tidak ada yang bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan Trump dari perang ini. "Terserah presiden Amerika Serikat untuk mengklarifikasi baik tujuan akhirnya maupun kecepatan yang ia maksudkan untuk operasi," kata Macron setelah panggilan tersebut .

Kebingungan ini diperparah oleh pernyataan Trump yang saling bertentangan. Sebelum panggilan G7, Trump mengatakan kepada Axios bahwa perang akan segera berakhir karena "hampir tidak ada yang tersisa" untuk ditargetkan di Iran. Namun saat meninggalkan Gedung Putih menuju rally di Kentucky, ia mengatakan kepada wartawan bahwa AS "belum selesai" menghantam Iran .

Di atas panggung rally di Hebron, Kentucky, Trump bahkan membuat pernyataan yang kontradiktif dalam waktu beberapa menit. "Kamu tidak pernah suka mengatakan terlalu cepat bahwa kamu menang. Kami menang. Di jam pertama semuanya sudah berakhir," kata Trump kepada kerumunan yang bersorak. Namun beberapa menit kemudian ia menambahkan, "Kami tidak ingin pergi lebih awal, bukan? Kita harus menyelesaikan pekerjaan, kan?" .

Klaim Kemenangan vs Realitas di Lapangan

Di tengah klaim Trump bahwa AS telah memenangkan perang, data dari Komando Pusat AS (CENTCOM) justru menunjukkan eskalasi yang berkelanjutan. CENTCOM melaporkan bahwa sekitar 6.000 target telah dihantam di Iran sejak serangan pertama diluncurkan. Lebih dari 90 kapal Iran juga telah rusak atau hancur, termasuk lebih dari 60 kapal dan 30 kapal peletak ranjau .

Namun, Iran menunjukkan belum ada tanda-tanda melemah. Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan perdananya kepada publik, bersumpah akan membuat AS dan Israel membayar atas segala kerusakan. Ia bahkan mengultimatum negara-negara Arab sekutu AS di Timur Tengah untuk menutup pangkalan-pangkalan militer Negeri Paman Sam atau bakal terus menjadi target serangan .

"Seluruh pangkalan AS di kawasan harus segera ditutup, jika tidak pangkalan-pangkalan itu akan diserang," ujar Mojtaba Khamenei pada Kamis (12/3) .

Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi Global

Salah satu senjata paling ampuh Iran dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur air strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Iran telah menutup selat tersebut dan memperingatkan akan terus mempertahankan penutupan sebagai alat tekanan .

Akibatnya, harga minyak melonjak lebih dari 9 persen menjadi 100 dolar AS per barel pada Kamis . Puluhan kapal tanker masih terdampar di perairan kawasan, dan dua kapal tanker minyak dilaporkan terbakar di pelabuhan Irak setelah dihantam kapal-kapal yang diduga bermuatan bahan peledak milik Iran .

Di tengah kekhawatiran global ini, Trump justru menyambut positif kenaikan harga minyak. "Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh lebih besar dari yang lain. Jadi ketika harga minyak naik, kita menghasilkan banyak uang," tulis Trump di Truth Social, Kamis waktu setempat .

Pernyataan ini memicu kemarahan di dalam negeri AS. Senator Demokrat dari Arizona, Mark Kelly, mengecam sikap Trump yang dinilainya tidak peduli pada rakyat kelas pekerja. "Satu-satunya pihak yang mendapat keuntungan dari kenaikan harga bensin adalah perusahaan-perusahaan minyak besar. Tetapi masuk akal mengapa Trump senang tentang hal itu karena dia hanya peduli pada orang kaya," cuit Kelly .

Serangan di Tehran: "Tanda Keputusasaan AS"

Di tengah ketegangan ini, laporan tentang serangan yang diduga dilakukan Israel di kawasan Lapangan Ferdowsi, Tehran, muncul pada hari yang sama. Menanggapi hal ini, Larijani menyebut serangan tersebut sebagai "tanda keputusasaan mereka" .

"Masalah Trump adalah dia tidak cukup pintar untuk memahami bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang dewasa, kuat, dan bertekad," jelas Larijani kepada media Iran. "Semakin banyak tekanan yang ia berikan kepada rakyat, semakin besar tekad mereka," tambahnya .

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf juga mengeluarkan peringatan keras terkait pulau-pulau Iran di Teluk. Laporan Axios menyebutkan bahwa merebut Kharg, salah satu pulau strategis Iran, sedang dipertimbangkan oleh AS seiring meluasnya perang. Qalibaf merespons dengan tegas: "Agresi apa pun terhadap tanah pulau-pulau Iran akan menghancurkan semua pengekangan. Kami akan meninggalkan semua pengekangan dan membuat Teluk Persia mengalir dengan darah para penjajah" .

Jalan Panjang Menuju Akhir Perang

Dengan kedua belah pihak menunjukkan sikap yang semakin keras, prospek perdamaian masih jauh dari kenyataan. Iran menegaskan hanya akan menerima gencatan senjata sebagai bagian dari "formula menyeluruh untuk mengakhiri perang sama sekali," seperti dikatakan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi .

Sementara itu, sumber yang berbicara dengan Trump pada Selasa malam menggambarkan presiden AS sebagai "antusias" untuk melanjutkan perang setidaknya 3-4 minggu lagi sebelum mengambil keputusan. Fokus fase berikutnya adalah kampanye berkelanjutan terhadap Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) yang disebut Trump sebagai "Gestapo" .

" Mereka tidak cukup lemah saat ini, tetapi mereka akan menjadi lemah dalam tiga hingga empat minggu," kata sumber tersebut kepada Axios, seraya menambahkan bahwa "akan ada upaya untuk melepaskan kekuatan di dalam Iran. Mungkin sebuah kota jatuh atau unit militer berbalik" .

Di tengah semua ketidakpastian ini, pernyataan Larijani menjadi pengingat bahwa Iran tidak akan mudah menyerah. "Trump bermasalah karena tidak cukup pintar untuk memahami bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang dewasa, kuat, dan bertekad," ujarnya .

Peringatan dari Teheran ini sekaligus menjadi jawaban atas klaim kemenangan Trump di media sosial: perang tidak dapat dimenangkan hanya dengan cuitan, dan jalan menuju perdamaian masih panjang serta berdarah.(INTB)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama