Disetujui Parlemen, Italia Resmi Hibahkan Kapal Induk Giuseppe Garibaldi ke Indonesia Secara Cuma-Cuma


ROMA, IndepthNTB – Parlemen Italia secara resmi menyetujui rencana pemerintah untuk menghibahkan kapal induk pensiunan Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia. Persetujuan ini diberikan pada 28 April 2026, setelah melalui proses perdebatan politik yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, alih kapal diperkirakan akan selesai pada Desember 2026.

Keputusan untuk memberikan aset senilai 54 juta euro (sekitar Rp950 miliar) secara cuma-cuma bukan tanpa alasan. Meskipun dinilai memiliki nilai aset yang signifikan, mempertahankan Garibaldi dalam status cadangan justru membebani keuangan negara.

Menurut laporan parlemen Italia, biaya pemeliharaan kapal ini mencapai sekitar 5 juta euro per tahun, yang mencakup biaya listrik, keamanan, dan perawatan minimal untuk menjaga kelayakan kapal.

Sementara itu, opsi untuk menjual dan membongkarnya membutuhkan biaya hingga 18,7 juta euro serta waktu minimal 24 bulan. Risiko tidak adanya pembeli yang berminat juga dapat menambah beban keuangan negara.

Oleh karena itu, pemerintah Italia menilai bahwa menghibahkan kapal kepada negara sahabat yang membutuhkan adalah pilihan paling masuk akal secara ekonomi dan strategis.


Kapal dengan Pengalaman Tempur

Giuseppe Garibaldi (C551) mulai bertugas pada tahun 1985 sebagai kapal induk pertama Angkatan Laut Italia. Kapal ini telah dikerahkan dalam berbagai operasi militer di kawasan Laut Tengah dan lepas pantai Afrika, termasuk misi di Lebanon, Libya, dan Somalia.

Kapal ini memiliki panjang 591 kaki, dilengkapi dengan ski-jump ramp untuk lepas landas pesawat short takeoff and vertical landing (STOVL), serta mampu mengangkut hingga 16 pesawat AV-8B Harrier II.

Meskipun kapal diserahkan secara gratis, Indonesia tetap menghadapi sejumlah tantangan besar.

Pertama, soal biaya operasional. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan kapal induk untuk patroli dan operasi kemanusiaan, namun biaya operasional dan perawatan kapal sebesar ini tidaklah murah.

Kedua, soal armada udara. Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat AV-8B Harrier II, namun Indonesia tidak mengoperasikan pesawat jenis tersebut. Kabar terbaru menyebutkan bahwa Indonesia berencana menggunakan kapal ini sebagai drone carrier untuk mengoperasikan pesawat nirawak Bayraktar TB3 buatan Turki sebagai alternatif.

Ketiga, soal usia kapal. Meskipun ada klaim bahwa kapal ini masih memiliki sisa usia operasional 15 hingga 20 tahun, pemerintah Italia sendiri mengakui dalam dokumen resminya bahwa "structural wear and the obsolescence of onboard systems" (keausan struktural dan ketidaksesuaian sistem di dalamnya) membuat kapal ini "tidak lagi memenuhi persyaratan operasional saat ini".


Alasan Strategis di Balik Persetujuan

Secara geopolitik dan ekonomi, langkah Italia ini merupakan bagian dari strategi yang lebih besar untuk memperluas pengaruh dan kerja sama dagang dengan Indonesia. Selain hibah kapal induk, pemerintah Italia juga berusaha menyelesaikan paket penjualan kapal selam dan pesawat terbang ke Indonesia dengan nilai sekitar 1,5 miliar euro.

"Operasi ini masuk akal. Kerja sama militer dan industri membawa keuntungan, baik di front politik maupun dalam berbagai berkas ekonomi lainnya," ujar Alessandro Marrone, pakar pertahanan dari Istituto Affari Internazionali di Roma.

Tahun lalu, perusahaan galangan kapal Fincantieri juga telah menyerahkan dua kapal tempur kepada Angkatan Laut Indonesia berdasarkan kesepakatan senilai 1,2 miliar dolar AS.

Penolakan dari Dalam Negeri

Meskipun akhirnya disetujui, rencana ini bukannya tanpa tentangan. Partai oposisi Italia, termasuk Five Star Movement dan Partai Demokrat, menolak rencana ini karena kurangnya informasi yang transparan.

Selain itu, dewan regional di Puglia bagian selatan, tempat Garibaldi saat ini bersandar, bahkan mendesak pemerintah untuk tidak menyetujui donasi tersebut dan mengubah kapal itu menjadi museum di pelabuhan Taranto.

Disaat Italia berusaha melepas beban warisan masa lalu, Indonesia justru mengambil lompatan besar. Langkah ini menjadikan Indonesia negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan kapal indu sekaligus membuka babak baru bagi dinamika kekuatan maritim di kawasan.(INTB)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama