Momen Langka Idul Fitri dan Nyepi Bertabrakan, Ali BD: "Esensinya Sama-sama Puasa, Mari Saling Hormati,"


LOMBOK TIMUR, Indepth NTB – Fenomena langka pertemuan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi dalam waktu yang berdekatan menuai perhatian dari berbagai kalangan. Menanggapi potensi gesekan yang kerap muncul, Mantan Bupati Lombok Timur, Mochammad Ali Bin Dachlan atau yang akrab disapa Ali BD, memberikan pandangan mendalam tentang esensi toleransi antar umat beragama.

Dalam wawancara khusus, Ali BD menekankan bahwa baik Idul Fitri maupun Nyepi memiliki esensi yang sama, yaitu puasa dan refleksi diri. Ia pun mengingatkan agar umat muslim dapat memahami situasi umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian.

"Hari Nyepi itu orang berpuasa. Karena itu, semua penganut agama yang percaya pada agama, saling percayai. Jadi kalau ada anjuran menteri supaya tidak ribut pada waktu itu, benar itu ya, karena orang sedang berpuasa," ujar Ali BD.

Menurutnya, pemahaman yang dangkal tentang agama seringkali menjadi pemicu intoleransi. Ia mengajak masyarakat untuk melihat esensi ibadah, bukan sekadar seremonial belaka.

"Esensi Nyepi itu juga berpuasa. Walaupun hanya sehari semalam. Tetapi itu dia dalam artinya, betul-betul digunakan oleh orang Hindu untuk merenung, membersihkan jiwanya, supaya kembali ke jalan yang benar. Jadi dia nanti setelah selesai itu mereka lebaran, sama seperti kita," tegasnya.

Salah satu poin penting yang disorot Ali BD adalah pelaksanaan takbir keliling menggunakan pengeras suara yang kerap menjadi sumber gangguan, terutama jika bertepatan dengan umat lain yang sedang beribadah atau berpuasa. Ia menegaskan bahwa takbir tidak dilarang, tetapi cara penyampaiannya perlu memperhatikan situasi dan kondisi.

"Jadi kalau ada kebetulan sama harinya itu, takbir tidak harus teriak ya. Takbir lebih baik itu dibacakan dengan suara sahdu, suara kecil. Bukan harus teriak yang menyebabkan orang terganggu bagi orang yang berpuasa. Jadi takbir tidak dilarang, tapi jangan anda berteriak-teriak itu maksudnya," ujar Ali BD.

Ia mencontohkan bahwa kebetulan tanggal penetapan Hari Raya Idul Fitri tahun ini jatuh pada hari Kamis, tetapi malam harinya masih bertepatan dengan umat Hindu yang menjalani malam puncak Nyepi. Situasi seperti ini, menurutnya, membutuhkan kearifan lokal dan saling pengertian.

Ali BD juga menyoroti bagaimana umat Islam dan Hindu di Bali mampu hidup berdampingan dengan damai. Ia menilai model toleransi di Bali patut dicontoh oleh daerah lain di Indonesia.

"Itu cara kita memahami agama. Di Bali juga begitu, orang-orang Islam di Bali sangat menghormati agama orang Bali karena mereka mayoritas. Begitu juga sebaliknya, orang Bali sangat menghormati orang Islam. Itu bisa ikut cara di Bali. Betul-betul orang ada di rumah, sepi, tidak ada lalu lalang sehari semalam. Itu bagus," jelasnya.

Menurut Ali BD, saling menghormati adalah esensi dari beragama. 

"Dan menjalankan puasa sama dengan kita. Tradisi saling menghormati itu harus dikembangkan di Indonesia ya. Kalau dipaksakan, masih ada aja masyarakat kita yang dangkal pengetahuannya tentang agama. Saya mengira disayangi Tuhan itu bukan diukur dari seberapa besar teriakannya. Sudut pandang agama, toleransi itu yang utama," pungkasnya.(INTB)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama