IndepthNTB – Konflik Timur Tengah memasuki babak baru yang mencekam. Israel dikabarkan bersiap melancarkan serangan besar-besaran di Jalur Gaza, setelah batas waktu 60 hari yang diberikan kepada Hamas untuk melucuti senjata berakhir pada Jumat malam (10/4/26). Sementara itu, di front utara, Israel juga mengintensifkan persiapan invasi darat skala besar ke Lebanon selatan, menciptakan situasi perang dua front yang pertama kali terjadi sejak konflik dimulai pada Oktober 2023.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari media Israel Israel Hayom dan sejumlah sumber lainnya, tenggat waktu yang diberikan kepada Hamas untuk menyetujui proposal perlucutan senjata telah berakhir malam ini. Proposal yang diawasi oleh Board of Peace pimpinan Presiden AS Donald Trump mewajibkan Hamas untuk menyerahkan hampir seluruh persenjataannya, menyerahkan peta jaringan terowongan bawah tanah, serta melepaskan kekuasaannya di Gaza.
Hingga batas waktu berakhir, Hamas belum menunjukkan itikad untuk memenuhi tuntutan tersebut. Kelompok perlawanan Palestina itu sebelumnya menolak mentah-mentah seruan perlucutan senjata. Juru bicara Hamas, Abu Obeida, dalam pernyataannya yang dikutip Reuters menyebut bahwa tuntutan Washington adalah "upaya terang-terangan untuk melanjutkan genosida terhadap rakyat kami" dan menolaknya dalam keadaan apa pun.
Deadlock ini telah diprediksi oleh kalangan militer Israel. Sumber-sumber senior militer menilai bahwa proses perlucutan senjata kemungkinan besar akan gagal tanpa tindakan militer. Seperti diberitakan Roya News, kecuali Presiden Trump melakukan intervensi, Israel sangat mungkin melancarkan operasi substansial lainnya terhadap Hamas untuk memaksakan perlucutan senjata. Bahkan, laporan Israel Hayom pada Februari lalu telah mengindikasikan bahwa begitu periode ultimatum berakhir, IDF akan melanjutkan tekanan militer terhadap Hamas.
⚔️ Invasi Darat Lebanon: "Kami akan Lakukan Seperti di Gaza"
Di tengah ketegangan di selatan, Israel juga bersiap membuka front besar di utara. Rencana invasi darat skala besar ke Lebanon selatan sedang dalam tahap akhir persiapan. Tujuannya adalah merebut seluruh wilayah di selatan Sungai Litani dan membongkar infrastruktur militer Hizbullah.
Seorang pejabat senior Israel menyatakan dengan blak-blakan kepada Axios dan dikutip Ynetnews, "Kami akan melakukan apa yang kami lakukan di Gaza," merujuk pada taktik membumi-hanguskan bangunan yang digunakan kelompok militan untuk menyimpan senjata dan meluncurkan roket. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, juga menyatakan, "Ini baru permulaan. Kami akan menghantam infrastruktur nasional Lebanon," seraya menambahkan bahwa Israel merasa memiliki dukungan penuh dari AS untuk operasi ini.
Para pejabat Israel mengatakan bahwa awalnya mereka berusaha menghindari eskalasi di Lebanon untuk fokus pada arena Iran. Namun, situasi berubah drastis setelah Hizbullah menembakkan lebih dari 200 roket dalam waktu kurang dari 24 jam dalam serangan terkoordinasi dengan Iran. Akibatnya, tiga brigade infanteri dan lapis baja telah dikerahkan di sepanjang perbatasan utara, bersiap untuk memperluas operasi darat.
Dengan batas waktu yang habis malam ini dan persiapan militer yang matang di dua front, dunia kini menanti apakah konflik berskala penuh akan benar-benar meletus dalam hitungan jam.
