Iran Sukses Baca Pola Serangan AS Selama Gencatan Senjata, Pentagon Akui Taktik Terlalu Mudah Ditebak



TEHERAN, IndepthNTB — Selama gencatan senjata sebulan dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran secara diam-diam tidak hanya memulihkan dan memindahkan peluncur rudal balistiknya, tetapi juga berhasil mempelajari pola-pola serangan udara AS dengan bantuan Rusia. Hasilnya, Pentagon sendiri mengakui bahwa taktik penerbangan Amerika telah menjadi terlalu mudah diprediksi.

Pengakuan mengagetkan ini disampaikan oleh seorang pejabat militer AS tingkat tinggi kepada The New York Times, yang menilai bahwa Iran telah memanfaatkan masa jeda sejak 8 April untuk menggali puluhan lokasi rudal balistik yang dibom, memindahkan peluncur mobile, dan menyesuaikan taktik mereka untuk kemungkinan dimulainya kembali pertempuran.

Yang paling mengkhawatirkan bagi Washington adalah temuan bahwa komandan-komandan Iran, "mungkin dengan bantuan Rusia, telah mempelajari jalur penerbangan jet tempur dan bomber AS".

Buktinya tidak bisa dibantah: jatuhnya pesawat tempur F-15E AS bulan lalu serta serangan yang mengenai pesawat siluman F-35 menunjukkan bahwa taktik penerbangan AS "telah menjadi terlalu dapat diprediksi, sehingga memungkinkan Iran untuk mempertahankan diri secara lebih efektif," kata pejabat tersebut.

Ini bukan sekadar klaim. Jatuhnya F-15E yang merupakan pesawat berawak AS pertama yang ditembak jatuh oleh Iran sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menjadi peringatan nyata.

Selama gencatan senjata, Iran bekerja tanpa lelah. Pejabat AS menjelaskan bahwa serangan bom AS hanya mengenai pintu masuk lokasi rudal, bukan peluncur itu sendiri, karena peluncur tersebut berada jauh di dalam gua bawah tanah dan struktur lain yang diukir di pegunungan granit yang "sangat sulit dihancurkan oleh pesawat serang AS".

Iran kini diketahui telah menggali kembali sejumlah besar lokasi tersebut.

Data intelijen AS mengungkapkan, Iran telah memulihkan 90% kemampuan rudal nasionalnya, termasuk 30 dari 33 lokasi peluncur di sepanjang Selat Hormuz. Iran masih memiliki 70% peluncur rudal mobile dan sekitar 70% stok rudal sebelum perang

Pejabat IRGC bahkan mengklaim bahwa selama gencatan senjata, laju pengisian ulang rudal dan drone Iran bahkan lebih cepat dari sebelum perang

Evaluasi pejabat AS tersebut mengubah narasi perang. Meskipun pemboman intensif selama lima pekan telah menewaskan beberapa pemimpin dan komandan Iran, hasil akhirnya justru kebalikan dari yang diharapkan Washington.

"Musuh telah muncul lebih tangguh dan lebih ulet," kata pejabat tersebut. "Iran telah menanamkan keyakinan di jajarannya bahwa mereka dapat berhasil melawan AS".

Resistensi yang sukses itu dapat diwujudkan melalui pemblokiran efektif Selat Hormuz, menyerang infrastruktur energi di negara-negara Teluk tetangga, atau mengancam pesawat AS.

Singkatnya, lima minggu pemboman telah menciptakan musuh yang lebih cerdas, lebih tangguh, dan lebih percaya diri untuk melawan.

#IranMembacaPolaSeranganAS #GencatanSenjataDimanfaatkanIran #TaktikASTerlaluMudahDitebak #NYT #PerangAsimetris #KebangkitanMiliterIran #IntelijenIran #BantuanRusiaUntukIran

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama