Daya Saing Indonesia Anjlok ke Peringkat 48, Tertinggal Jauh dari Negara Tetangga

JAKARTA, IndepthNTB - Kabar buruk kembali menghampiri daya saing Indonesia di kancah global. Laporan terbaru IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026 yang dirilis Juni 2026 oleh IMD World Competitiveness Center, Swiss, menempatkan Indonesia di posisi ke-48 dari 70 negara yang dinilai.

Peringkat ini merosot delapan tingkat dibandingkan tahun 2025 yang masih berada di posisi 40. Padahal pada 2024, Indonesia sempat mencatatkan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah keikutsertaannya dengan menduduki peringkat ke-27. Dengan demikian, dalam dua tahun terakhir, daya saing Indonesia telah turun 21 peringkat.

Di tingkat regional Asia Pasifik yang terdiri atas 15 negara, Indonesia hanya berada di peringkat ke-14 dengan skor 57,57 poin, atau terendah kedua setelah Mongolia. Posisi ini juga turun dari peringkat 11 pada tahun sebelumnya.

Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara tetangga. Malaysia berada di peringkat 15 dunia, Thailand di posisi 26, dan Vietnam di peringkat 27. Sementara itu, Singapura kembali mempertahankan posisi puncak sebagai ekonomi paling kompetitif di dunia.

Faktor utama yang mendorong penurunan peringkat Indonesia adalah masalah kelembagaan dan efisiensi bisnis. Analis pasar uang dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, mengatakan penurunan ini membalikkan tren perbaikan selama beberapa tahun terakhir dan menegaskan meningkatnya tantangan struktural di luar kinerja makroekonomi.

Dari empat pilar penilaian IMD kinerja ekonomi, efisiensi pemerintah, efisiensi bisnis, dan infrastruktur, hanya kinerja ekonomi yang masih relatif kuat di peringkat 24.

Sementara itu, efisiensi pemerintah merosot tajam dari peringkat 14 pada 2024 menjadi peringkat 50 pada 2026. Kerangka kelembagaan berada di peringkat 50, regulasi bisnis di posisi 43, dan kerangka sosial di peringkat 54.

Efisiensi bisnis juga terpuruk, turun dari peringkat 23 pada 2024 menjadi 38 pada 2026. Produktivitas dan efisiensi hanya menempati posisi 53, sektor keuangan di peringkat 51, serta praktik manajemen di posisi 55.

Infrastruktur menjadi pekerjaan rumah terbesar. Indonesia berada di posisi 58 untuk faktor infrastruktur, memburuk dari posisi 52 pada 2024. Pendidikan bahkan berada di peringkat 63 dari 70 negara, sementara kesehatan dan lingkungan di posisi 65.

IMD mencatat lima tantangan utama yang dihadapi Indonesia pada 2026:

1. Meningkatnya konfrontasi ekonomi global yang mengancam ketahanan energi nasional

2. Pertumbuhan ekonomi yang relatif stagnan

3. Penyesuaian alokasi anggaran pemerintah

4. Keterbatasan infrastruktur dan kompetensi SDM

5. Terbatasnya sumber pembiayaan

Direktur IMD World Competitiveness Center Arturo Bris menilai daya saing ekonomi saat ini tidak lagi ditentukan terutama oleh ukuran pasar atau biaya produksi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara terkait merosotnya posisi Indonesia. Ia mengatakan pemerintah akan meneliti lebih lanjut penyebab penurunan tersebut melalui Tim Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP) atau tim debottlenecking.

"Nanti kita teliti lagi masalahnya di mana. Kan kita ada persiapan untuk tim debottlenecking. Jadi kita akan lihat saja dari sana," ujar Airlangga.

Meski demikian, Airlangga menilai daya saing Indonesia di sektor energi masih cukup menarik, terutama energi baru terbarukan (EBT) yang sedang diminati investor.

Pengamat menilai jika tidak segera dilakukan perbaikan fundamental, daya saing Indonesia akan sulit terangkat dan berpotensi menghambat iklim investasi, perdagangan, serta pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

#DayaSaingIndonesia #IMD2026 #DayaSaingGlobal #EkonomiIndonesia #PeringkatDayaSaing #Infrastruktur #EfisiensiBisnis #AirlanggaHartarto #IMDWorldCompetitivenessRanking

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama