Iran Dilaporkan Hentikan Negosiasi dengan AS, Ancam Blokade Total Selat Hormuz



TEHERAN, IndepthNTB -  Dalam perkembangan dramatis yang mengguncang Timur Tengah, Iran secara resmi mengumumkan penghentian semua jalur dialog dan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui mediasi, sebagai buntut dari serangan militer Israel yang terus menggila di Lebanon.

Langkah tegas tersebut dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, pada hari Senin (1/6). Lebih dari itu, Teheran juga mengancam akan memblokade total Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia, serta mengaktifkan front-front perlawanan lainnya.

Menurut laporan Tasnim yang dikutip oleh ABC News, Iran bersama dengan sekutunya dalam "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance) telah menyusun agenda untuk memblokade sepenuhnya Selat Hormuz. Tidak hanya itu, mereka juga siap mengaktifkan front lain, termasuk di Selat Bab el-Mandeb, sebagai aksi balasan dan hukuman atas dukungan AS terhadap Israel.

Keputusan ini secara efektif memperdalam krisis diplomatik yang terjadi selama tiga bulan terakhir, terutama setelah AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai dalam perundingan yang difasilitasi oleh Pakistan.

Tim negosiasi Iran menyatakan bahwa penghentian komunikasi ini dilakukan karena "rezim Zionis" (Israel) terus melakukan kejahatan di Lebanon. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon adalah prasyarat mutlak bagi setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang regional yang lebih luas.

"Kami menganggap mengakhiri pertempuran di Lebanon sebagai prasyarat untuk kesepakatan apa pun yang bertujuan mengakhiri perang regional yang lebih besar," demikian pernyataan tegas Iran seperti dilaporkan oleh media Australia, ABC News.

Keputusan Iran ini dipicu oleh eskalasi terbaru di Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah memerintahkan serangan ke pinggiran selatan Beirut, yang merupakan benteng kuat kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Netanyahu bersumpah akan terus memperdalam aktivitas daratnya di Lebanon dan tidak akan ada perdamaian di Beirut jika Hizbullah terus menyerang.

Perintah serangan tersebut memicu kepanikan massal, dengan ribuan warga Lebanon terlihat meninggalkan pinggiran selatan Beirut Dahiyeh, membawa serta barang-barang penting mereka di tengah kekhawatiran akan terjadinya perang habis-habisan.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan peringatan keras melalui media sosial, menyatakan bahwa "pelanggaran gencatan senjata di satu front berarti pelanggaran di semua front." Ia menambahkan bahwa AS dan Israel bertanggung jawab penuh atas konsekuensi pelanggaran gencatan senjata yang terjadi.

Speaker Parlemen Iran dan negosiator utama, Mohamad Baqer Qalibaf, juga memperingatkan bahwa AS dan Israel akan membayar harga mahal atas apa yang dianggap Teheran sebagai pelanggaran gencatan senjata di Lebanon. "Setiap keputusan memiliki harga, dan sekarang saatnya membayar tagihan," tulisnya.

Dalam perkembangan yang lebih mengkhawatirkan, badan intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa "Iran menganggap melintasi garis merah di Lebanon dan Gaza berarti perang langsung." Mereka bertekad untuk melakukan operasi defensif dengan mengambil tindakan berarti dan membuka front baru, selain mempertahankan persamaan di Selat Hormuz.


#IranVsAS #IsraelLebanon #TenggaraHormuz #PerangTimurTengah #UpdateBerita

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama