Antropolog Jepang Ungkap Budaya Ngidam Suku Sasak Bukan Sekadar Keinginan Ibu Hamil, tapi Pengakuan Eksistensi Bayi


LOMBOK TIMUR, IndepthNTB – Tradisi ngidam yang selama ini identik dengan keinginan aneh ibu hamil ternyata menyimpan makna sosial yang jauh lebih dalam. Peneliti antropologi asal Jepang, Saki Tanada, Ph.D., menilai tradisi ngidam dalam budaya Suku Sasak memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar keinginan ibu hamil.

Pandangan itu disampaikan Saki saat menjadi narasumber dalam diskusi antropologi di Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor, Kamis, 2 Juli 2026. Dalam pemaparannya, peneliti dari Kanazawa University Jepang itu menjelaskan perjalanan akademiknya serta fokus riset antropologinya di Lombok. Ia menyoroti bahwa banyak hal yang dianggap biasa atau sepele oleh masyarakat, jika dikaji melalui perspektif antropologi, memiliki makna yang sangat mendalam.

Salah satu contoh menarik yang dipaparkan adalah tentang budaya ngidam di kalangan masyarakat Sasak. Menurut Saki Tanada, fenomena ngidam bukan sekadar keinginan ibu hamil terhadap makanan atau hal tertentu. Dalam kajian etnografinya, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk pengenalan (recognize) terhadap bayi dalam kandungan sebagai anggota keluarga dan bagian dari masyarakat Sasak. Pengakuan tersebut menjadi awal lahirnya tanggung jawab kolektif untuk menjaga ibu hamil sebagai bentuk menerima amanah Tuhan.

"Ngidam bukan hanya soal keinginan ibu hamil. Dalam perspektif antropologi, tradisi ini menjadi cara keluarga dan masyarakat mengakui kehadiran bayi sejak masih berada di dalam kandungan," ujarnya.

Selain ngidam, diskusi juga menyentuh tradisi ketemuk tradisi yang menggambarkan hubungan simbolik antara orang yang masih hidup dengan anggota keluarga yang telah meninggal. Tradisi tersebut menjadi bagian dari penelitiannya mengenai proses kehamilan, persalinan, hingga masa setelah melahirkan di tengah masyarakat Sasak. Kajian itu kemudian ia tuangkan dalam disertasi doktoralnya yang berjudul "The Mother-Child Bonding in Pregnancy, Childbirth, and Postnatal: An Ethnographic Study of Birthing among Sasak People in Lombok".

Lebih luas, Saki Tanada menekankan pentingnya riset antropologi untuk mengubah cara pandang dunia terhadap masyarakat di negara berkembang. Menurutnya, publikasi hasil penelitian menjadi jembatan agar masyarakat internasional memahami realitas kehidupan suatu komunitas secara lebih utuh. Dengan demikian, penghormatan terhadap perbedaan budaya dapat tumbuh berdasarkan pemahaman, bukan sekadar asumsi.

"Kalau kita tidak meneliti dan mempublikasikannya, orang luar tidak akan mengetahui makna di balik budaya yang kita miliki. Padahal, penelitian bisa membangun penghormatan terhadap perbedaan budaya," pungkasnya.

Diskusi di IAI Hamzanwadi Pancor ini menjadi ruang pertukaran gagasan tentang pentingnya penelitian budaya lokal dalam pengembangan ilmu pengetahuan serta memperluas wawasan civitas akademika mengenai kajian antropologi. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata upaya IAI Hamzanwadi Pancor dalam mendorong produksi ilmu pengetahuan dan membuka wawasan terhadap kajian budaya dan antropologi.

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama