![]() |
TEHERAN, IndepthNTB – Para analis dan pejabat di Iran meyakini bahwa Israel akan kembali melancarkan perang terhadap Iran sebelum bulan Oktober mendatang. Keyakinan ini didasarkan pada pembacaan atas situasi di Lebanon selatan, yang dinilai sebagai panggung manuver politik dan militer Israel untuk membuka jalan bagi eskalasi baru di front Iran.
Menurut nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran, Israel seharusnya menghentikan pertempuran di semua lini dan menarik pasukannya dari Lebanon. Namun, proses penarikan ini menemui jalan buntu setelah Israel menandatangani kesepakatan terpisah dengan pemerintah Lebanon. Kesepakatan tersebut secara halus membatalkan MoU dengan mengkaitkan penarikan penuh pasukan Israel pada kewajiban Hizbullah untuk melucuti senjata terlebih dahulu.
Syarat ini dinilai mustahil terpenuhi. Hizbullah, sebagai faksi bersenjata kuat, tidak memiliki kepentingan untuk melucuti senjata, sementara pemerintah Lebanon tidak memiliki kapasitas untuk memaksakan kehendak tersebut. Akibatnya, pasukan Israel praktis bertahan di wilayah selatan Lebanon—mencakup sekitar seperlima total luas negara itu—tanpa batas waktu yang jelas.
Para analis melihat situasi ini sebagai jebakan yang disengaja. Seorang analis bahkan menyebut kesepakatan itu "lahir mati" karena sejak awal tidak memiliki fondasi realistis. Israel telah memanfaatkan celah ini untuk membentuk zona penyangga sedalam 8–10 kilometer di selatan Lebanon. Dengan rantai penarikan yang digantung pada kondisi mustahil, Israel memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan.
Bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ini adalah bagian dari strategi yang sempat terlewatkan pada Februari lalu. Dengan pasukannya yang kini mapan di perbatasan utara, Netanyahu memiliki ruang gerak untuk menyerang Iran tanpa khawatir akan serangan balasan besar-besaran dari Hizbullah di perbatasan utara.
Motivasi politik Netanyahu pun dinilai sangat kuat. MoU dengan AS telah menguras dukungan politiknya di dalam negeri. Peluangnya untuk terpilih kembali pada Oktober berada di titik terburuk dalam beberapa bulan terakhir. Kekalahan dalam pemilu akan mengancam kekebalan hukumnya, yang berpotensi membawanya kembali ke meja persidangan atas kasus korupsi. Dengan demikian, menghidupkan kembali perang dianggap sebagai cara paling efektif untuk menggagalkan MoU yang selama ini mengikatnya.
Netanyahu sendiri hampir tidak menyembunyikan niat. Pekan ini ia menyatakan bahwa Israel akan menyerang Iran "jika diperlukan" dan menegaskan bahwa Tehran "tidak akan memiliki senjata nuklir."
Satu-satunya ketidakpastian yang masih membingungkan Tehran adalah reaksi Washington. Namun, beberapa analis menilai posisi tawar Iran justru menguat. Kemampuan Iran untuk menutup Selat Hormuz memberikan ancaman langsung terhadap kepentingan AS. Karenanya, pertanyaan kunci bukanlah bagaimana Presiden Trump akan bereaksi, melainkan apakah ia mampu menghentikan Netanyahu untuk mengambil keputusan yang akan menentukan arah kebijakan AS di kawasan. (Sumber: Reuters, Al Jazeera, Anadolu)
#Israel #Iran #Netanyahu #PerangTimurTengah #Lebanon #Hizbullah #Geopolitik #AS #Trump #SelatHormuz #KrisisTimurTengah
