LOMBOK TIMUR, IndepthNTB - Pasien stroke RSUD Selong mengeluhkan obat kosong saat melakukan kontrol rawat jalan di Poli Sarap. Buruknya mereka harus antri panjang hingga berjam-jam. Setelah antri lama, obatpun tidak diberikan secara penuh sesuai dengan resep dokter, dengan alasan obat kosong. Pasien sering kali hanya mendapat sebagian resep dan dipaksa kembali datang minggu berikutnya untuk mengambil sisa obat.
"Kami diresepkan oleh dokter untuk satu bulan, tatapi obat yang dikasih hanya untuk kebutuhan satu minggu, dengan alasan obat yang tersedia kurang. Itupun kalau obat tersedia. Kalau tidak ada, kembali lagi besoknya atau lusanya lagi," ujar keluarga pasien asal Sembalun, Amaq Dedy, Senin (27/7/2026).
Kondisi ini paling dirasakan oleh keluarga pasien yang datang dari pelosok Lombok Timur, seperti Sembalun, Sambelia dan Jerowaru, yang harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk datang menebus obat.
"Bagi kami yang sangat jauh ini sangat terbebani kalau obat itu tidak langsung ada. Jika tidak ada, kami harus kembali lagi ke sini," keluh Amaq Dedy.
Kondisi ini diakui sudah berlangsung lama dan tidak menunjukkan perbaikan.
"Hal ini terjadi terus menerus tanpa ada perubahan layanan dari sejak masa Direktur yang dulu hingga sekarang sama saja," ujarnya.
Pasien penyakit kronis seperti stroke dan jantung menjadi pihak yang paling terdampak. Padahal, keterlambatan pemberian obat bagi penderita penyakit tersebut dapat berakibat fatal.
"Seharusnya ini menjadi perhatian khusus karena menyangkut hidup mati pasien, utamanya penyakit jantung dan stroke. Khusus yang stroke, dari pantauan media ini yang terbanyak," ungkap Amaq Dedy.
Ironisnya, berdasarkan aturan pasien wajib menerima obat lengkap sesuai dengan yang diresepkan. Tetapi berbeda yang terjadi di RSUD R. Soedjono Selong pasien hanya diberikan obat sebagian.,
Pasien mengaku telah menyampaikan keluhan melalui nomor layanan khusus untuk memastikan ketersediaan obat. Namun di lapangan, nomor tersebut tidak berfungsi.
"Diakui ada nomor layanan khusus bagi pasien yang obatnya kurang, namun yang terjadi di WA pun tidak dibalas. Hanya formalitas saja, nomor yang dihubungi untuk memastikan ketersediaan obat," keluh Amaq Dedy.
Keluhan serupa diungkapkan Saridah, seorang keluarga pasien stroke asal Jerowaru menyoroti beban ganda yang ditanggung.
"Seharusnya dipikirkan bagaimana kami yang jauh ini. Belum biaya perjalanan, belum lagi risiko bila obat tidak ada, akan berpengaruh terhadap kondisi keluarga kami," ujarnya.
Publik kini menunggu gebrakan nyata dari pimpinan baru RSUD R. Soedjono Selong. Pasalnya, masalah antrean obat dan kekosongan stok ini bukanlah persoalan baru, melainkan sudah terjadi sejak lama.
"Semestinya Direktur baru harus ada inovasi yang dilakukan untuk mengatasi ini karena ini bukan masalah baru tetapi sudah terjadi sejak lama," pungkas sumber.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RSUD R. Soedjono Selong belum memberikan keterangan resmi terkait antrean panjang dan kelangkaan obat tersebut.
#RSUDRSoedjono #LayananKesehatan #ObatKosong #LombokTimur #BPJSKesehatan #KeluhanPasien #NTB #RumahSakit
