Bantu Tangani Stunting, Perum Bulog Salurkan Bantuan Beras Fortivit dan Susu UHT

Foto : Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Dhana Putra Prasetya secara simbolik menyerahkan bantuan beras Fortivit


LOMBOK TIMUR, IndephtNTB – Perum Bulog kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya pengentasan stunting di Indonesia. Melalui program "Bulog Peduli Gizi", Perum Bulog menyerahkan bantuan kepada 155 anak yang mengalami stunting di Kecamatan Sakra, Lombok Timur (Lotim). Bantuan yang disalurkan meliputi 4.650 kilogram beras Fortivit, 13.250 susu UHT, dan 155 unit magic com.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Dhana Putra Prasetya, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin yang dilakukan Bulog di berbagai titik di Indonesia.

"Kegiatan ini rutin kami lakukan dengan menyasar beberapa titik-titik di Indonesia. Dan hari ini kita menyasar anak-anak di Lotim, di Kecamatan Sakra," terang Dhana, Kamis (10/9).

Program bantuan ini akan berlangsung selama tiga bulan ke depan. Setiap bulan, keluarga dengan anak stunting akan menerima bantuan beras Fortivit dan susu. Tidak hanya sebatas pemberian bantuan, penerima juga akan mendapatkan pendampingan dari tim kesehatan.

"Keluarga stunting akan diberikan edukasi bagaimana memberikan gizi yang tepat, serta mengatasi berbagai permasalahan kesehatan anak. Sehingga program ini diharapkan betul-betul berdampak terhadap tumbuh kembang anak," jelasnya.

Dhana menambahkan bahwa pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan program ini.

"Kita akan terus melakukan pemantauan, dan tiga bulan ke depan, kami akan turun kembali melihat dampak program ini," katanya.

Pemilihan Kecamatan Sakra sebagai lokasi penyaluran bantuan bukan tanpa alasan. Kecamatan ini merupakan salah satu kantong stunting di Lombok Timur. Penentuan lokasi ini sebelumnya telah melalui proses survei yang dilakukan oleh Bulog.

Selain itu, pihaknya juga ingin memanfaatkan gudang Bulog sebagai salah satu titik pengentasan stunting, sehingga masyarakat di sekitar gudang dapat tertangani dengan baik.

"Kita ingin mulai dari sekitar Bulog dulu, nanti setelah itu kita akan lanjutkan ke yang lebih luas lagi," ujarnya.

Dhana menjelaskan bahwa beras Fortivit yang diberikan berbeda dengan beras pada umumnya. Beras ini merupakan beras premium yang ditambahkan multivitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang balita.

"Beras Fortivit sebenarnya tidak jauh berbeda dengan produksi beras premium pada umumnya. Hanya saja, ada tambahan proporsi mineral dan vitamin di dalamnya," bebernya.

Penambahan vitamin dan mineral pada beras Fortivit tidak dilakukan sembarangan, melainkan mengikuti standar minimum dari Kementerian Kesehatan yang menakar kandungan vitamin di dalam beras, dan telah melalui uji laboratorium.

Anak-anak yang menjadi sasaran program ini memiliki kondisi khusus, sehingga asupan yang diberikan pun harus khusus. Jika hanya menggunakan beras biasa, dikhawatirkan asupan serta progres selama tiga bulan ke depan tidak bisa optimal.

Beras Fortivit memiliki dua jalur distribusi, yaitu dijual di pasaran dan disalurkan berdasarkan pesanan dari pemerintah daerah untuk memberantas stunting.

"Karena dibuat berdasarkan pesanan atau permintaan, sehingga stok di pasaran saat ini tidak terlalu banyak. Ketika ada permintaan dari daerah tertentu untuk intervensi stunting, Bulog akan memproduksi sejumlah pesanan, harganya sekitar Rp16-Rp19 ribu per kilo," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Lotim, Lalu Aries Fahrozi, menyampaikan bahwa berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2025 lalu, kasus stunting Lotim berada di angka 25 persen. Ia berharap pada survei tahun ini data stunting Lotim bisa menurun dari tahun sebelumnya.

"Apa yang dilakukan oleh Perum Bulog hari ini bagian dari ikhtiar kita dan tentu kita sangat berterima kasih kepada Bulog yang telah membantu Pemkab Lotim untuk mengatasi stunting, khususnya di Sakra," katanya.

Aries menekankan bahwa masalah stunting tidak hanya disebabkan oleh masalah asupan gizi, tetapi ada variabel lainnya yang harus diatasi, seperti pola asuh dan riwayat penyakit lain yang mempengaruhi serapan asupan gizi pada anak.

"Sehingga berapa pun diberikan tidak akan terserap maksimal," ujarnya.

Oleh karena itu, dalam acara ini tidak hanya dilakukan pemberian bantuan, tetapi juga pemeriksaan kesehatan terhadap anak-anak. Harapannya, jika ada anak-anak yang terdeteksi memiliki penyakit tertentu, bisa ditindaklanjuti.

"Di samping mendapatkan asupan gizi yang baik, kita pastikan bahwa kondisinya memang baik untuk menyerap gizi yang kita berikan," tutupnya.(INTB)

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama