Penulis : Aldo el-Haz Kaffa
OPINI - Seluruh keberadaan bukanlah peristiwa acak yang berdiri tanpa asal. Jagat semesta yang luas, langit yang bertingkat, bumi yang terbentang, laut yang dalam, gunung yang kokoh, angin yang bergerak, malam yang datang, siang yang menyingsing, serta kehidupan yang berdenyut pada setiap makhluk, semuanya menunjuk kepada satu kenyataan besar: ada Pencipta, ada Pengatur, ada Pemilik, ada Yang Maha Berkehendak. Dialah Allah ‘azza wa jalla.
Tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap benda memiliki sebab, setiap kejadian memiliki kadar, setiap kehidupan memiliki batas, dan setiap perjalanan memiliki tujuan. Alam raya ini bukan sekadar panggung kosong yang terjadi begitu saja, melainkan ciptaan yang penuh tanda. Di dalamnya ada hikmah, ukuran, susunan, keteraturan, dan keindahan. Dari benda langit yang bergerak dalam orbitnya sampai denyut jantung manusia yang terus bekerja tanpa pernah diminta, semuanya berbicara dalam bahasa ketundukan kepada Allah.
Di antara sekian banyak ciptaan itu, Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Bumi bukan sekadar planet biasa. Di sinilah manusia diuji, diberi amanah, diberi akal, diberi kehendak, diberi petunjuk, dan diberi kesempatan untuk mengenal Allah. Manusia bukan sekadar makhluk biologis yang makan, minum, bekerja, menikah, menua, lalu selesai. Manusia memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah hamba Allah, sekaligus kholifah di bumi.
Sebagai kholifah, manusia diberi tugas untuk memakmurkan bumi, menjaga keseimbangan, menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, dan menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah. Amanah ini bukan amanah kecil. Karena itulah manusia tidak dibiarkan tanpa petunjuk. Allah tidak menciptakan manusia lalu membiarkannya bingung menebak-nebak sendiri jalan hidupnya. Allah menurunkan wahyu, mengutus para Nabi dan Rosul, serta menjelaskan mana jalan terang dan mana jalan gelap.
Pada setiap kurun masa, selalu ada manusia pilihan yang diberi informasi langit dan diutus kepada umatnya. Mereka itulah para Nabi dan Rosul. Mereka datang bukan membawa ambisi pribadi, bukan membawa kepentingan duniawi, bukan pula sekadar mengajarkan etika sosial. Mereka datang membawa pesan paling mendasar: sembahlah Allah, jauhi thoghut, tunduklah kepada kebenaran, dan kembalilah kepada fithroh.
Risalah para Nabi pada intinya satu, yaitu tauhid. Nabi Adam, Nuh, Ibrohim, Musa, 'Isa, dan seluruh Nabi lainnya membawa panggilan yang sama: manusia harus mengenal Allah, menyembah-Nya, menaati-Nya, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Lalu risalah itu disempurnakan dan ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah penutup para Nabi, rohmat bagi semesta alam, teladan sempurna bagi siapa saja untuk hidup lurus, mulia, dan selamat.
Maka, sebenarnya jalan hidup manusia itu tidak rumit. Yang membuatnya terasa rumit sering kali bukan ajarannya, melainkan hawa nafsu manusia sendiri. Islam itu sederhana dalam prinsip, luas dalam hikmah, dan indah dalam pengamalan. Cukup kenal Allah, imani Dia, taati perintah-Nya, jauhi larangan-Nya, ikuti Rosul-Nya, lalu istiqomah sampai datang batas usia. Hidup selesai dengan baik, mati dalam keadaan baik, lalu berlanjut kepada kehidupan yang lebih hakiki.
Inilah kesederhanaan yang agung. Manusia tidak diminta menciptakan sendiri makna hidupnya dari nol. Tidak diminta mengarang sendiri standar benar dan salah berdasarkan selera zaman. Tidak diminta mengejar dunia seolah-olah dunia adalah tujuan akhir. Manusia hanya diminta tunduk, berserah, percaya, dan taat kepada Allah. Itulah Islam. Itulah iman. Itulah jalan pulang.
Paket normal dan asli manusia adalah muslim yang mukmin. Muslim berarti berserah diri, tunduk, patuh kepada Allah. Mukmin berarti percaya penuh, yakin, membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal. Dalam pandangan Islam, manusia lahir di atas fithroh. Ia membawa kecenderungan asli untuk mengenal Allah, untuk mencintai kebenaran, untuk mencari makna, dan untuk tunduk kepada Yang Maha Sempurna.
Namun dalam perjalanan hidup, manusia bisa tertutup oleh lingkungan, hawa nafsu, kesombongan, trauma, syahwat, kepentingan, atau godaan dunia. Ada yang menerima cahaya, ada yang menolak. Ada yang terbuka hatinya, ada yang tertutup. Ada yang mendengar lalu tunduk, ada yang mengetahui namun membangkang. Semua itu berada dalam ilmu Allah, kehendak Allah, dan menjadi bagian dari ujian besar kehidupan manusia.
Di sinilah seorang muslim mukmin perlu memahami realitas manusia dengan jernih. Tidak semua orang menerima hidayah. Tidak semua orang mau tunduk. Tidak semua orang melihat dunia sebagaimana orang beriman melihatnya. Ada manusia yang hidup hanya dengan ukuran materi, kekuasaan, kesenangan, popularitas, atau pencapaian lahiriah. Ada yang menganggap kemajuan hanya sebatas teknologi, ekonomi, militer, gedung tinggi, sistem politik, atau kebebasan tanpa batas. Padahal semua itu, tanpa iman dan takwa, tetap menyisakan kekosongan paling mendasar dalam diri manusia. Tetapi memang itu dibuat oleh, keberadaan orang-orang tertutup (kafir) itu memang kehendak Allah.
Teknologi bisa dipelajari. Ilmu dunia bisa dikejar. Sistem bisa dibangun. Peradaban lahiriah bisa ditiru bahkan dilampaui. Tetapi iman tidak bisa digantikan oleh mesin. Takwa tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Ketundukan kepada Allah tidak bisa digantikan oleh kemajuan industri. Kebersihan jiwa tidak bisa digantikan oleh kemewahan kota. Manusia boleh sampai ke bulan, boleh menjelajah samudra, boleh membangun gedung pencakar langit, boleh menciptakan alat-alat canggih, tetapi bila ia tidak mengenal Allah, maka ia kehilangan pusat makna hidupnya.
Karena itu menjadi aneh bila muslim mukmin terlalu silau kepada peradaban yang tampak maju secara lahiriah tetapi kosong dari iman. Kagum kepada keteraturan, kedisiplinan, ilmu, teknologi, atau etos kerja suatu bangsa tentu boleh. Bahkan seorang muslim harus mampu mengambil pelajaran dari mana saja selama itu baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Namun silau secara batin, merasa rendah diri di hadapan bangsa yang tidak beriman, menganggap Islam sebagai penghambat kemajuan, atau merasa malu dengan identitas muslim, itu adalah masalah serius.
Seorang mukmin harus punya 'izzah. Bukan sombong, bukan merendahkan orang lain, bukan merasa otomatis lebih baik secara pribadi, tetapi sadar bahwa iman adalah nikmat tertinggi. Menjadi muslim adalah karunia besar. Mengenal Allah adalah kemuliaan. Mengikuti Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehormatan. Memiliki al-Qur’an sebagai petunjuk adalah cahaya. Maka tidak pantas seorang muslim minder terhadap dunia, sebagaimana tidak pantas pula ia arogan hanya karena identitas keagamaannya.
Di sinilah keseimbangan Islam tampak indah. Kepada orang yang berbeda agama, Islam mengajarkan kejelasan sikap sekaligus keadaban. “Lakum dinukum wa liya din” — bagimu agamamu, bagiku agamaku. Prinsip ini bukan ajakan mencampuradukkan keyakinan, tetapi penegasan batas dengan cara yang bermartabat. Seorang muslim tidak perlu memaksa orang lain menerima iman, sebab hidayah milik Allah. Tetapi seorang muslim juga tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Islam adalah kebenaran.
Toleransi dalam Islam bukan berarti menganggap semua keyakinan sama benarnya. Toleransi berarti mampu hidup adil, berakhlak, tidak zalim, tidak memaksa, tidak menghina, dan tetap menjaga batas-batas iman. Muslim mukmin memahami bahwa manusia berbeda-beda. Ada yang beriman, ada yang belum beriman, ada yang menolak, ada yang mencari, ada yang bingung, ada pula yang memusuhi. Semua itu tidak membuat seorang mukmin kehilangan akhlak. Justru karena ia beriman, ia harus lebih lembut, lebih adil, lebih matang, dan lebih jelas dalam bersikap.
Islam bukan agama yang hanya indah dalam kitab, tetapi buruk dalam kenyataan. Bila Islam tampak buruk pada sebagian mata manusia, sering kali masalahnya bukan pada Islam, melainkan pada pemeluknya yang gagal menampilkan Islam dengan benar. Ini harus menjadi bahan muhasabah besar. Jangan sampai kebodohan kita membuat orang menjauh dari Islam. Jangan sampai kekasaran kita dianggap sebagai wajah Islam. Jangan sampai kemalasan kita dianggap sebagai ajaran Islam. Jangan sampai korupsi, dusta, pengkhianatan, dan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang beridentitas muslim menjadi fitnah terhadap agama yang suci ini.
Seorang muslim tidak cukup hanya bangga menjadi muslim. Ia harus membuktikan keislamannya dalam kehidupan nyata. Iman tidak berhenti di lisan. Taqwa tidak cukup menjadi slogan. Cinta kepada Nabi tidak cukup diucapkan dalam majelis, tetapi harus terlihat pada akhlak, adab, cara bicara, cara berikhtiar, cara memimpin, cara berdagang, cara mengajar, cara bertetangga, cara bermedia sosial, dan cara memperlakukan orang yang lemah.
Bila seseorang adalah guru, jadilah guru muslim yang jujur, sabar, mencerdaskan, dan mengangkat martabat murid. Bila seseorang adalah pedagang, jadilah pedagang muslim yang amanah, tidak curang, tidak menipu, dan tidak mengambil hak orang lain. Bila seseorang adalah pemimpin, jadilah pemimpin muslim yang adil, takut kepada Allah, tidak rakus, tidak sewenang-wenang, dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri. Bila seseorang adalah pekerja (pegawai atau karyawan) jadilah pekerja muslim yang disiplin, profesional, bertanggung jawab, dan tidak asal-asalan. Bila seseorang adalah orang tua, jadilah orang tua muslim yang penuh kasih, memberi teladan, dan menanamkan iman kepada anak-anaknya.
Inilah personifikasi keindahan Islam. Islam hadir bukan hanya dalam masjid, tetapi juga di kantor, pasar, sekolah, rumah, jalan raya, ruang rapat, ruang publik, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Islam bukan hanya tampak ketika seseorang sholat, tetapi juga ketika ia menepati janji, menjaga lisan, menghormati tamu, membayar utang, tidak menyakiti tetangga, mengurus keluarga, dan memperlakukan bawahan dengan manusiawi.
Islam adalah cinta bagi semesta, tetapi cinta itu harus terejawantah dalam amal. Rohmatan lil ‘alamin bukan sekadar kalimat indah untuk dikutip, melainkan tugas besar untuk diwujudkan. Seorang muslim harus menjadi rohmat bagi keluarganya, bukan sumber ketakutan. Menjadi rohmat bagi tetangganya, bukan sumber gangguan. Menjadi rohmat bagi masyarakatnya, bukan sumber kekacauan. Menjadi rohmat bagi profesinya, bukan pembawa keburukan. Menjadi rohmat bagi bangsa dan dunia, bukan beban peradaban.
Maka bersyukur menjadi muslim mukmin bukan berarti berhenti pada rasa bangga. Syukur harus melahirkan tanggung jawab. Bila Allah telah memberi cahaya, maka jangan hidup seperti orang yang rela berada dalam gelap. Bila Allah telah memberi petunjuk, jangan berjalan semaunya sendiri. Bila Allah telah memuliakan dengan Islam, jangan merendahkan diri dengan maksiat, kebodohan, kemalasan, dan akhlak buruk. Bila perempuan telah diizinkan menjadi muslimah (perempuan berserah patuh) jangan berbusana tidak longgar tidak menutupi seluruh badannya dan jangan warna mencolok yang malah menarik perhatian selain mahrom.
Kita perlu bergembira karena diberi iman. Tetapi kegembiraan itu harus melahirkan kesungguhan. Kita yakin bahwa Islam adalah jalan terbaik. Tetapi keyakinan itu harus melahirkan akhlak terbaik. Kita bangga menjadi umat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kebanggaan itu harus membuat kita malu bila hidup kita justru mempermalukan ajaran beliau.
Jangan sampai orang mengenal Islam dari kemarahan kita, bukan dari kasih sayang kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari pertengkaran kita, bukan dari kebijaksanaan kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kebodohan kita, bukan dari kejernihan ilmu kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kemalasan kita, bukan dari kesungguhan kerja kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kekerasan lisan kita, bukan dari kemuliaan akhlak kita.
Muslim mukmin sejati adalah manusia yang kokoh di dalam, lembut di luar, jelas dalam prinsip, luas dalam kasih, tinggi dalam cita-cita, rendah hati dalam pergaulan, dan istiqomah dalam ketaatan. Ia tidak silau oleh dunia, tetapi juga tidak lari dari tanggung jawab dunia. Ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang amal. Ia tidak membenci ilmu dan kemajuan, justru mengejarnya dengan niat ibadah. Ia tidak anti peradaban, tetapi ingin membangun peradaban yang beriman, bertaqwa, adil, dan bermartabat.
Pada akhirnya, hidup ini memang sederhana bagi orang yang diberi tawfiq. Dari Allah kita berasal, kepada Allah kita kembali. Di dunia kita diuji, di akhirat kita menuai. Nabi telah memberi teladan, al-Qur’an telah memberi petunjuk, Islam telah sempurna sebagai jalan hidup. Tugas kita adalah tunduk, percaya, taat, bersabar, bersyukur, dan terus memperbaiki diri sampai ajal datang.
Maka mari bersyukur dan bergembira karena kita adalah muslimin mukminin. Mari menjaga nikmat iman ini dengan ilmu, amal, dakwah, sabar, dan akhlaq mulia. Mari menjadi bukti hidup bahwa Islam itu indah, terang, masuk akal, penuh kasih, dan membawa kemuliaan. Mari berhenti mempermalukan Nabi dengan kebodohan, kemungkaran, kemalasan, dan akhlaq buruk kita sendiri. Mari menghadirkan Islam dalam wujud nyata: pada pekerjaan kita, keluarga kita, ucapan kita, keputusan kita, kepemimpinan kita, dan seluruh perjalanan hidup kita.
Karena Islam bukan hanya untuk diyakini, tetapi untuk dihidupi. Iman bukan hanya untuk disimpan di hati, tetapi untuk memancar dalam perilaku diri. Taqwa bukan hanya untuk disebut, tetapi untuk menjadi kompas dalam setiap pilihan. Dan hidup yang paling indah adalah hidup yang sejak awal hingga akhir berjalan dalam ketundukan kepada Allah.
Mengapa NTB Hanya Begini-Begini Saja?
Lalu kini, tetiba kita terperanjat. Seperti baru tersadar dari tidur panjang. Mengapa NTB hanya begini-begini saja dari waktu ke waktu? Mengapa daerah yang indah ini, yang kaya alamnya, besar potensinya, mulia masyarakatnya, kuat tradisi religiusnya, dan begitu sering disebut sebagai bumi seribu masjid, belum benar-benar melompat menjadi wilayah yang unggul, beradab, makmur, tertib, bersih, dan membanggakan?
Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan kalimat basa-basi. Tidak cukup dijawab dengan angka-angka statistik yang dipilih-pilih. Tidak cukup dijawab dengan baliho, seremoni, pidato, jargon pembangunan, festival, atau program-program yang terdengar megah tetapi tidak benar-benar menyentuh akar persoalan.
Kita harus berani berkata dengan jujur: bila sebuah masyarakat yang mengaku beriman tidak memancarkan kejujuran, amanah, disiplin, ilmu, kerja keras, kasih sayang, kebersihan, keadilan, dan tanggung jawab, maka ada yang tidak beres dalam keberagamaannya.
Dan bila daerah yang mayoritas penduduknya muslim, masjidnya banyak, majelisnya ramai, ceramahnya hidup, simbol-simbol keagamaannya kuat, tetapi kemiskinan masih menganga, pendidikan masih tertinggal, pelayanan publik masih mengecewakan, birokrasi masih lamban, lingkungan masih rusak, tata kelola masih kacau, dan amanah publik masih sering diperlakukan seperti milik pribadi atau kelompok, maka masalahnya bukan pada Islam. Masalahnya pada kita yang belum benar-benar berislam dan beriman.
Tanpa ragu, akar terdalamnya adalah karena kita belum sungguh-sungguh menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Kita mungkin muslim secara identitas, tetapi belum tentu muslim secara mentalitas. Kita mungkin mukmin dalam pengakuan, tetapi belum tentu mukmin dalam keputusan, pekerjaan, kepemimpinan, transaksi, pelayanan, dan perilaku sehari-hari.
Islam kita sering berhenti di ruang ibadah, tetapi tidak ikut masuk ke ruang rapat. Islam kita hidup di mimbar, tetapi redup di kantor. Islam kita terdengar dalam khutbah, tetapi hilang dalam pengadaan barang dan jasa. Islam kita mengalun dalam doa, tetapi kalah oleh kepentingan, gengsi, transaksionalisme, dan rasa takut kehilangan jabatan.
Padahal iman yang benar tidak mungkin hanya menghasilkan manusia yang pandai berkata-kata. Iman yang benar harus melahirkan manusia yang amanah. Takwa yang benar tidak mungkin hanya menghasilkan air mata di majelis zikir. Takwa yang benar harus melahirkan keberanian menolak yang haram, malu mengambil yang bukan haknya, takut menzalimi rakyat, dan bersungguh-sungguh menyelesaikan urusan manusia.
Di sinilah letak keterperanjatan kita. NTB tidak kekurangan masjid. NTB tidak kekurangan acara agama. NTB tidak kekurangan tokoh yang pandai bicara agama. NTB tidak kekurangan slogan religius. Tetapi barangkali NTB kekurangan orang-orang yang benar-benar menjadikan iman sebagai sistem kendali diri. Kekurangan manusia yang ketika diberi amanah langsung gemetar karena ingat Allah. Kekurangan pejabat yang merasa kursinya bukan kehormatan, melainkan beban hisab. Kekurangan warga yang memahami bahwa membuang sampah sembarangan, melanggar antrean, malas bekerja, menipu dalam dagang, abai pada pendidikan anak, dan merusak fasilitas umum juga bagian dari kegagalan berislam.
Sebab Islam bukan hanya sholat. Islam juga amanah. Islam bukan hanya puasa. Islam juga menahan diri dari mengambil hak rakyat. Islam bukan hanya haji dan umroh. Islam juga tidak menyakiti tetangga, tidak mengkhianati janji, tidak mempermainkan jabatan, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai kendaraan keluarga, kelompok, atau kroni. Islam bukan hanya hafalan ayat. Islam juga keberanian menjalankan ayat. Islam bukan hanya mencintai Nabi dengan lisan. Islam juga malu mempermalukan Nabi dengan perilaku buruk.
Maka ketika kita bertanya mengapa NTB belum maju sebagaimana seharusnya, jangan buru-buru menunjuk keluar. Jangan hanya menyalahkan pusat, sejarah, geografi, anggaran, cuaca, investor, atau keadaan. Semua itu boleh dianalisis, tetapi jangan sampai menjadi tabir untuk menghindari muhasabah paling pokok: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang amanah?
Sebab daerah tidak rusak tiba-tiba. Daerah rusak pelan-pelan ketika amanah diremehkan. Ketika jabatan dianggap hadiah, bukan tanggung jawab. Ketika kekuasaan dianggap kesempatan membagi-bagi keuntungan, bukan sarana menegakkan keadilan. Ketika anggaran dipandang sebagai kue, bukan titipan rakyat. Ketika birokrasi sibuk melayani atasan, bukan melayani masyarakat. Ketika orang baik diam karena takut tidak dapat tempat. Ketika orang berilmu disingkirkan karena tidak pandai menjilat. Ketika yang dipilih bukan yang paling mampu, tetapi yang paling dekat, paling ramai pendukung, paling kuat modal, atau paling pandai memainkan citra.
Di titik itu, jangan heran bila pembangunan berjalan seperti kendaraan berat yang mesinnya batuk-batuk. Bergerak, tetapi lamban. Ada suara, tetapi sedikit hasil. Ada seremoni, tetapi kurang substansi. Ada laporan, tetapi rakyat masih merasakan hal yang sama: hidup tidak banyak berubah.
Padahal NTB memiliki modal yang luar biasa. Alamnya indah. Lautnya memesona. Gunungnya megah. Tanahnya subur. Budayanya kuat. Masyarakatnya tangguh. Anak-anak mudanya banyak yang cerdas. Potensi pariwisata, pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, pendidikan, dan spiritualitasnya sangat besar. Tetapi potensi sebesar apa pun akan tinggal potensi bila manusia yang mengelolanya tidak amanah, tidak berilmu, tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak punya visi besar.
Inilah yang harus kita akui. Persoalan utama NTB bukan semata kekurangan sumber daya. Persoalan utamanya adalah kualitas manusia dan kualitas amanah. Dan dalam bahasa iman, kualitas manusia itu kembali kepada iman dan takwa yang nyata, bukan yang hanya dekoratif.
Bila warga benar-benar beriman, ia tidak akan merusak lingkungannya sendiri. Bila pedagang benar-benar beriman, ia tidak akan mengurangi timbangan. Bila guru benar-benar beriman, ia tidak akan mengajar asal hadir. Bila murid benar-benar beriman, ia tidak akan malas menuntut ilmu. Bila aparatur benar-benar beriman, ia tidak akan mempersulit rakyat demi keuntungan pribadi. Bila pemimpin benar-benar beriman, ia tidak akan tidur nyenyak sementara rakyatnya lapar, sekolahnya rusak, jalan desanya hancur, pelayanan kesehatannya lemah, dan anak-anak mudanya kehilangan harapan. Bila penyelenggara negara benar-benar beriman, ia tahu bahwa tanda tangan bukan sekadar administrasi. Itu amanah. Keputusan bukan sekadar kebijakan. Itu kelak akan ditanya. Anggaran bukan sekadar angka. Itu keringat rakyat. Jabatan bukan sekadar kursi. Itu ujian yang bisa mengangkat derajat atau menjerumuskan ke dalam kehinaan.
Maka sungguh mengerikan bila seseorang tampak religius di depan publik tetapi zalim dalam kebijakan. Tampak santun di panggung tetapi kasar kepada bawahan. Tampak membela rakyat dalam pidato tetapi abai dalam keputusan. Tampak dekat dengan ulama tetapi jauh dari akhlak. Tampak mencintai Islam tetapi tidak malu mempermainkan amanah.
Inilah musibah yang jauh lebih berat daripada kemiskinan materi: kemiskinan ruhani dalam tubuh masyarakat yang merasa sudah religius. Sebab ketika orang tidak tahu bahwa dirinya sakit, ia tidak mencari obat. Ketika masyarakat merasa sudah baik hanya karena simbol agamanya kuat, ia bisa lupa memperbaiki penyakit yang merusak dari dalam: riya, malas, dusta, korup, dengki, fanatik buta, feodalisme, pragmatisme, dan ketidakseriusan.
Maka NTB tidak cukup dibangun dengan proyek. NTB harus dibangun dengan taubat. Taubat warga. Taubat pemimpin. Taubat birokrasi. Taubat pasar. Taubat sekolah. Taubat rumah tangga. Taubat partai. Taubat para pemegang amanah. Taubat kolektif dari cara hidup yang menjadikan Islam sebagai identitas, tetapi belum menjadikannya sebagai disiplin moral, intelektual, sosial, dan peradaban.
Taubat bukan berarti berhenti bekerja lalu hanya menangis. Taubat berarti kembali ke jalan yang benar. Taubat berarti memperbaiki niat dan sistem. Taubat berarti berani membongkar kebiasaan buruk. Taubat berarti tidak lagi mengulang pola lama yang membuat daerah ini berjalan di tempat. Taubat berarti memilih orang karena kapasitas dan integritas, bukan karena amplop, kedekatan, fanatisme, atau tekanan kelompok. Kita perlu berhenti meromantisasi diri. Tidak cukup berkata, “Kita daerah religius.”
Pertanyaannya: apakah jalan-jalan kita mencerminkan religiusitas? Apakah kantor-kantor pelayanan publik kita mencerminkan amanah? Apakah pasar kita mencerminkan kejujuran? Apakah sekolah kita mencerminkan cinta ilmu? Apakah politik kita mencerminkan adab? Apakah media sosial kita mencerminkan akhlak? Apakah cara kita memperlakukan orang miskin, perempuan, anak-anak, pekerja kecil, petani, nelayan, dan kelompok lemah mencerminkan rahmat Islam? Bila belum, maka jangan terlalu cepat bangga. Bersyukur iya. Bangga boleh. Tetapi bangga tanpa perbaikan hanya membuat kita tertidur lebih lama.
Islam tidak datang untuk membuat umatnya menjadi penonton peradaban. Islam datang untuk mengangkat manusia menjadi mulia. Islam mengajarkan kebersihan, ketepatan janji, keadilan, ilmu, kerja keras, kesungguhan, musyawarah, profesionalitas, dan kasih sayang. Maka bila ada masyarakat muslim yang kotor, lamban, kacau, malas, tidak disiplin, tidak adil, dan tidak amanah, jangan salahkan Islam. Salahkan pengamalan kita yang compang-camping.
NTB harus berani naik kelas. Tetapi naik kelas bukan dimulai dari bandara, hotel, sirkuit, jalan besar, atau kawasan wisata saja. Semua itu penting, tetapi bukan inti. Naik kelas dimulai dari manusia. Dari cara berpikir. Dari cara beriman. Dari cara bekerja. Dari cara mengelola amanah. Dari cara memperlakukan waktu. Dari cara menghargai ilmu. Dari cara memilih pemimpin. Dari cara membangun keluarga. Dari cara menegakkan kebenaran walau tidak populer.
Kita butuh generasi muslim mukmin yang tidak minder kepada dunia, tetapi juga tidak bodoh terhadap dunia. Generasi yang shalatnya baik, ilmunya kuat, pekerjaannya rapi, akhlaknya lembut, pikirannya terbuka, prinsipnya kokoh, dan kontribusinya nyata. Generasi yang mampu membaca al-Qur’an dengan tartil, sekaligus membaca realitas sosial dengan jernih. Generasi yang mencintai masjid, tetapi juga mampu membangun sekolah, rumah sakit, industri, pertanian modern, birokrasi bersih, dan tata kota yang manusiawi.
Sebab umat Islam tidak boleh puas hanya menjadi umat yang ramai dalam seremoni. Kita harus menjadi umat yang unggul dalam kualitas. Tidak cukup banyak. Harus bermutu. Tidak cukup lantang. Harus benar. Tidak cukup emosional. Harus rasional dan spiritual sekaligus. Tidak cukup mengaku umat terbaik. Harus membuktikan diri dengan amal terbaik.
Dan khusus kepada para pemegang amanah penyelenggara negara, pesannya harus lebih tegas: takutlah kepada Allah atas rakyat yang berada dalam tanggung jawabmu.
Jabatan itu sebentar. Tepuk tangan itu sebentar. Foto-foto seremoni itu sebentar. Kekuasaan itu sebentar. Tetapi hisab panjang. Doa orang yang terzalimi tidak main-main. Tangisan rakyat kecil bukan sesuatu yang boleh dianggap angin lalu. Setiap kebijakan yang lalai, setiap anggaran yang bocor, setiap proyek yang asal-asalan, setiap pelayanan yang dipersulit, setiap kesempatan yang dijual, setiap jabatan yang diberikan kepada orang yang tidak layak, semuanya akan kembali kepada pemegang amanahnya.
Maka jadilah pejabat yang benar-benar muslim. Bukan hanya muslim ketika membuka acara dengan salam. Bukan hanya muslim ketika duduk di barisan depan pengajian. Bukan hanya muslim ketika memakai simbol agama. Tetapi muslim ketika mengambil keputusan. Muslim ketika mengelola anggaran. Muslim ketika memilih bawahan. Muslim ketika menghadapi kritik. Muslim ketika menandatangani dokumen. Muslim ketika tidak ada kamera. Muslim ketika tidak ada wartawan. Muslim ketika hanya Allah yang melihat. Sebab di situlah kualitas iman diuji.
NTB tidak akan berubah hanya karena kita mengganti slogan. NTB tidak akan berubah hanya karena kita mengganti pemimpin. NTB tidak akan berubah hanya karena kita membuat program baru dengan nama baru. NTB berubah bila manusianya berubah. Bila iman berubah dari sekadar identitas menjadi energi peradaban. Bila takwa berubah dari sekadar kata menjadi mekanisme pengendalian diri. Bila Islam berubah dari simbol menjadi sistem nilai yang benar-benar mengatur perilaku publik dan pribadi.
Maka keterperanjatan ini harus menjadi awal kebangkitan. Jangan hanya kaget, lalu kembali tidur. Jangan hanya marah, lalu kembali memilih cara lama. Jangan hanya mengeluh, lalu tetap ikut merusak. Jangan hanya menyalahkan pejabat, sementara sebagai warga kita pun tidak tertib, tidak jujur, tidak disiplin, dan tidak peduli. Perbaikan NTB harus dimulai dari setiap jiwa. Dari rumah. Dari masjid. Dari sekolah. Dari kantor desa. Dari kantor dinas. Dari pasar. Dari pesantren. Dari kampus. Dari komunitas. Dari keluarga. Dari diri sendiri.
Kita harus bertanya setiap hari: bagian mana dari NTB yang sedang saya perbaiki? Atau jangan-jangan saya ikut menjadi sebab mengapa NTB hanya begini-begini saja? Karena bisa jadi kerusakan besar lahir dari kelalaian kecil yang dilakukan berjamaah. Satu orang membuang sampah sembarangan, tampak kecil. Tetapi bila dilakukan ribuan orang, rusaklah lingkungan. Satu orang datang terlambat, tampak kecil. Tetapi bila menjadi budaya, rusaklah produktivitas. Satu orang berdusta, tampak kecil. Tetapi bila menjadi kebiasaan kolektif, runtuhlah kepercayaan. Satu orang menjual suara, tampak kecil. Tetapi bila menjadi tradisi politik, lahirlah pemimpin yang tidak merasa berutang kepada kebenaran, melainkan kepada modal dan transaksi.
Maka jangan remehkan amal kecil. Peradaban dibangun dari akumulasi kebiasaan. Dan kebiasaan dibangun dari iman yang hidup atau iman yang mati. Bila iman hidup, orang malu berbuat buruk meski tidak diawasi. Bila iman hidup, orang bekerja baik meski tidak dipuji. Bila iman hidup, orang menolak haram meski sedang butuh. Bila iman hidup, orang membela benar meski sendirian. Bila iman hidup, orang memegang amanah meski kesempatan berkhianat terbuka lebar.
Di sinilah harapan NTB. Bukan pada banyaknya proyek semata, tetapi pada lahirnya manusia-manusia beriman yang fungsional, produktif, amanah, dan beradab. Manusia yang tidak hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial. Tidak hanya pandai berdoa, tetapi juga pandai bekerja. Tidak hanya mencintai akhirat, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang amal terbaik.
Mari kita jujur: NTB tidak kekurangan potensi. NTB kekurangan kesungguhan kolektif untuk hidup sesuai iman yang kita klaim. Bila iman dan takwa benar-benar menjadi fondasi, maka kebersihan akan membaik, pendidikan akan diperjuangkan, birokrasi akan dibenahi, kemiskinan akan ditangani dengan serius, korupsi akan dipermalukan, ilmu akan dimuliakan, dan rakyat kecil tidak akan dibiarkan berjalan sendiri. Maka hari ini, keterperanjatan itu harus berubah menjadi tekad.
Ya Allah, jangan biarkan kami menjadi masyarakat yang hanya ramai menyebut nama-Mu tetapi sepi menaati-Mu. Jangan biarkan kami menjadi umat yang bangga kepada Nabi-Mu tetapi mempermalukan beliau dengan akhlak kami. Jangan biarkan NTB menjadi tanah yang indah alamnya tetapi lemah amanahnya. Jangan biarkan masjid-masjid kami ramai tetapi pasar, kantor, sekolah, jalan, dan pemerintahan kami jauh dari nilai Islam. Jadikan kami muslimin mukminin yang benar. Yang iman kami tampak dalam kejujuran. Yang takwa kami tampak dalam amanah. Yang cinta kami kepada Islam tampak dalam kerja nyata. Yang syukur kami atas nikmat iman tampak dalam perbaikan daerah, bangsa, dan kehidupan manusia.
Sebab NTB tidak akan menjadi mulia hanya karena mengaku religius. NTB akan menjadi mulia bila penduduknya benar-benar tunduk kepada Allah, mencintai ilmu, memuliakan amanah, menegakkan keadilan, menjaga akhlak, dan bekerja sungguh-sungguh sebagai khalifah di bumi.
Maka mari berhenti menjadi muslim simbolik. Mari menjadi muslim substantif. Mari berhenti puas dengan identitas. Mari naik menuju kualitas.
Mari berhenti menyalahkan gelap. Mari menjadi cahaya. Dan mari buktikan bahwa Islam yang kita imani bukan hanya indah dalam ucapan, tetapi juga agung dalam kenyataan hidup sehari-hari.
Dari Tulisan Menuju Ikhtiar Nyata
Namun setelah semua ini dituliskan, ada satu hal penting yang harus segera ditegaskan: tulisan ini tidak boleh berhenti sebagai tulisan. Jangan sampai ia hanya menjadi rangkaian kalimat yang terdengar keras, menggetarkan sesaat, lalu hilang ditelan percakapan harian. Jangan sampai ia hanya dianggap sebagai keluhan panjang seorang warga yang sedang kecewa. Jangan sampai ia terbaca sekadar sebagai omelan, kecerewetan, kegusaran, atau teori moral yang indah di atas kertas tetapi tidak punya kaki untuk berjalan di bumi.
Sebab memang mudah untuk mengeluh. Mudah untuk menunjuk. Mudah untuk menyebut bahwa keadaan buruk. Mudah untuk mengatakan bahwa pemimpin belum amanah, warga belum disiplin, birokrasi belum bersih, pendidikan belum maju, ekonomi belum berdaya, dan daerah belum naik kelas. Semua orang bisa mengeluh. Semua orang bisa marah. Semua orang bisa menulis kritik.
Tetapi Islam tidak mengajarkan kita berhenti pada keluhan. Islam mengajarkan amal. Iman bukan sekadar kemampuan membaca kerusakan. Iman adalah kesediaan ikut memperbaiki. Takwa bukan sekadar kemampuan menasihati orang lain. Takwa adalah keberanian menempatkan diri dalam barisan perbaikan, meski kecil, meski sunyi, meski tidak disorot, meski tidak dibayar, meski tidak diberi panggung.
Maka tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menjadi palu yang hanya memukul kepala orang lain. Tulisan ini pertama-tama adalah cermin. Cermin untuk saya sendiri. Cermin untuk kita semua. Cermin untuk warga, pemimpin, pelaku usaha, pendidik, santri, mahasiswa, birokrat, politisi, aktivis, orang tua, anak muda, dan siapa pun yang masih ingin melihat NTB menjadi lebih baik dengan cara yang diridhai Allah.
Bila ada yang terasa tajam, semoga tajamnya bukan tajam kebencian, melainkan tajamnya kesadaran. Bila ada yang terasa keras, semoga kerasnya bukan keras kesombongan, melainkan kerasnya panggilan untuk bangun. Bila ada yang terasa menggugat, semoga gugatan itu bukan lahir dari rasa paling benar, melainkan dari rasa sayang kepada daerah ini, kepada masyarakat ini, dan kepada masa depan anak-anak kita.
Karena kita tidak ingin NTB hanya menjadi daerah yang ramai disebut indah, tetapi rakyatnya masih banyak yang letih. Tidak ingin NTB hanya menjadi destinasi wisata, tetapi manusianya tertinggal dalam kualitas hidup. Tidak ingin NTB hanya dikenal dengan masjid-masjidnya, tetapi nilai amanah belum benar-benar menjadi budaya publik. Tidak ingin NTB hanya bangga dengan gelar religiusnya, tetapi praktik sosial, ekonomi, pendidikan, birokrasi, dan kepemimpinannya belum mencerminkan kemuliaan Islam.
Kita ingin sesuatu yang lebih sungguh-sungguh. Kita ingin Islam hadir sebagai energi peradaban. Islam yang bukan hanya menjadi simbol, tetapi menjadi sistem perilaku. Islam yang bukan hanya hadir dalam upacara dan sambutan, tetapi hadir dalam cara menyusun kebijakan, mengelola anggaran, melayani rakyat, membangun usaha, mendidik anak, memperlakukan pekerja, menjaga lingkungan, dan menata masa depan.
Kita ingin iman yang berfungsi. Iman yang membuat pemimpin takut berkhianat. Iman yang membuat pejabat malu bermalas-malasan. Iman yang membuat pengusaha tidak menipu. Iman yang membuat guru bersungguh-sungguh. Iman yang membuat pekerja amanah.nIman yang membuat warga tertib.nIman yang membuat anak muda berani bermimpi besar, tetapi tetap sujud kepada Allah. Iman yang membuat masyarakat mencintai ilmu, kerja keras, kebersihan, keadilan, dan kemaslahatan.
Di sinilah saya ingin menegaskan posisi saya. Saya tidak ingin hanya menulis. Saya tidak ingin hanya berbicara. Saya tidak ingin hanya mengkritik keadaan dari jauh, lalu selesai dengan perasaan sudah melakukan sesuatu. Tidak. Bila Allah izinkan, saya ingin ikut turun dalam ikhtiar nyata.
Saya, dengan Kaffa Business Coach, siap membantu, menolong, dan membersamai ikhtiar serius serta berkelanjutan bagi penerapan nilai-nilai Islam dalam ikhtiar kehidupan nyata, terutama dalam dunia usaha, kepemimpinan, kerja profesional, pengelolaan amanah, pembentukan budaya produktif, dan pembangunan manusia.
Bukan Islam sebagai tempelan. Bukan Islam sebagai slogan pemasaran. Bukan Islam sebagai bahasa seremoni. Bukan Islam sebagai kosmetik citra. Tetapi Islam sebagai ruh kerja. Islam sebagai kompas keputusan. Islam sebagai disiplin amanah. Islam sebagai dasar integritas. Islam sebagai sumber keberanian, ketekunan, kesungguhan, kejujuran, pelayanan, dan tanggung jawab.
Sebab ikhtiar juga harus berislam. Bisnis juga harus berislam. Kepemimpinan juga harus berislam. Organisasi juga harus berislam. Tata kelola juga harus berislam. Pelayanan publik juga harus berislam. Pendidikan juga harus berislam. Politik juga harus berislam. Bukan dalam arti sempit, formalistik, atau sekadar simbolik, tetapi dalam arti paling mendasar: tunduk kepada Allah, jujur, amanah, adil, bermanfaat, profesional, tidak zalim, tidak curang, tidak merusak, dan tidak mengambil yang bukan haknya.
Saya meyakini, dan insya Allah memiliki pengalaman serta reputasi untuk itu, bahwa perubahan tidak cukup hanya dimulai dari wacana besar. Perubahan harus diterjemahkan menjadi sistem kecil yang dijalankan terus-menerus. Nilai harus menjadi kebiasaan. Kebiasaan harus menjadi budaya. Budaya harus menjadi standar. Standar harus menjadi kehormatan bersama.
Karena itu, penerapan Islam dalam ikhtiar tidak boleh berhenti pada nasihat umum seperti “harus jujur”, “harus amanah”, “harus kerja keras”. Semua itu benar, tetapi perlu diturunkan menjadi langkah nyata.
Bagaimana membangun budaya kerja yang amanah? Bagaimana membuat usaha kecil lebih rapi, tertib, dan bertumbuh tanpa kehilangan keberkahan? Bagaimana pemimpin melayani timnya dengan adab dan ketegasan? Bagaimana lembaga mengelola amanah tanpa kebocoran, tanpa sandiwara, tanpa budaya asal jadi? Bagaimana anak muda muslim belajar produktif, percaya diri, dan tidak minder menghadapi dunia? Bagaimana masjid, komunitas, pesantren, sekolah, koperasi, UMKM, dan organisasi lokal menjadi pusat gerakan ekonomi serta akhlak yang nyata?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak cukup dijawab dengan ceramah. Ia perlu didampingi. Perlu dilatih. Perlu dibiasakan. Perlu disusun. Perlu dievaluasi. Perlu dibersamai.
Dan untuk ikhtiar seperti itulah Kaffa Business Coach siap hadir.bGratis. Cuma-cuma. Lillahi ta‘ala. Bukan proposal proyek. Bukan skema menggarong anggaran negara. Bukan pintu belakang mencari keuntungan pribadi.bBukan cara halus menempel kepada kekuasaan. Bukan pula upaya menjadikan kegelisahan publik sebagai komoditas.
Ini semata-mata tawaran kontribusi. Bila ada manfaat yang bisa diberikan, silakan ambil. Bila ada pengalaman yang bisa dibagikan, silakan gunakan. Bila ada pendampingan yang bisa membantu, mari kita jalankan. Bila ada komunitas, lembaga, usaha, pemuda, masjid, sekolah, pesantren, atau kelompok masyarakat yang ingin bersungguh-sungguh memperbaiki ikhtiar hidupnya dengan nilai Islam yang nyata, insya Allah saya siap membersamai sebatas kemampuan yang Allah titipkan.
Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Tidak perlu menunggu anggaran besar. Tidak perlu menunggu panggung resmi. Tidak perlu menunggu semua orang setuju. Perbaikan bisa dimulai dari yang kecil, dari yang dekat, dari yang mungkin, dari yang hari ini bisa kita lakukan. Satu usaha yang menjadi lebih jujur. Satu komunitas yang menjadi lebih produktif.bSatu pemuda yang menemukan arah hidup. Satu pemimpin kecil yang belajar amanah. Satu tim kerja yang menjadi lebih tertib. Satu keluarga yang lebih sadar pendidikan. Satu masjid yang bukan hanya ramai ibadah, tetapi juga menguatkan ekonomi dan akhlak jamaahnya.
Itu semua tidak kecil di sisi Allah bila dilakukan dengan ikhlas dan istiqamah. Karena perubahan besar sering kali lahir dari amal-amal kecil yang tidak berhenti. Air yang menetes terus-menerus dapat melubangi batu. Cahaya kecil yang dijaga dapat menjadi suluh bagi banyak orang. Gerakan yang ikhlas, meski sederhana, bisa menjadi sebab Allah bukakan pintu-pintu kebaikan yang tidak pernah kita duga.
Maka, kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, terutama yang merasa memiliki keresahan yang sama: mari jangan berhenti pada setuju. Mari jangan hanya membalas dengan komentar, emoji, atau kalimat “mantap”. Mari bertanya lebih jauh: apa yang bisa kita kerjakan setelah ini?
Bila Anda pemegang amanah, mari benahi amanah itu. Bila Anda pelaku usaha, mari jadikan usaha itu lebih berkah, rapi, kuat, dan bermanfaat. Bila Anda pendidik, mari jadikan ruang belajar sebagai tempat lahirnya manusia beriman dan berkualitas. Bila Anda anak muda, mari jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh, bergaya, dan membandingkan diri. Bila Anda tokoh masyarakat, mari jadikan pengaruh sebagai alat memperbaiki, bukan sekadar mempertahankan posisi. Bila Anda warga biasa, jangan pernah merasa tidak punya peran. Peradaban selalu dibentuk juga oleh kebiasaan warga biasa.
Dan bila dalam perjalanan itu diperlukan teman berpikir, teman menyusun langkah, teman menguatkan ikhtiar, teman membangun sistem sederhana, teman mengevaluasi arah usaha atau organisasi, maka silakan hubungi saya.
Saya tidak menjanjikan keajaiban. Saya tidak membawa mantra instan. Saya tidak menawarkan jalan pintas. Sebab perubahan yang benar memang tidak lahir dari sulap. Perubahan lahir dari niat yang lurus, ilmu yang cukup, disiplin yang panjang, kerja yang tekun, evaluasi yang jujur, dan pertolongan Allah.
Yang saya tawarkan hanyalah membersamai ikhtiar. Membantu sebisanya. Menolong semampunya. Berbagi pengalaman yang ada. Mengajak kembali kepada prinsip yang sederhana tetapi sering kita tinggalkan: berimanlah dengan benar, bekerjalah dengan benar, pimpinlah dengan benar, berdaganglah dengan benar, layani manusia dengan benar, dan takutlah kepada Allah dalam setiap amanah.
Bila ini dijalankan, insya Allah tidak ada alasan NTB terus begini-begini saja. Sebab daerah yang manusianya mulai jujur akan bergerak. Daerah yang pemimpinnya mulai amanah akan berubah. Daerah yang warganya mulai disiplin akan naik kelas. Daerah yang anak mudanya mulai mencintai ilmu akan melompat.
Daerah yang pengusahanya mulai mengejar berkah, bukan sekadar laba, akan menguat. Daerah yang masjidnya bukan hanya tempat shalat, tetapi juga pusat pembentukan manusia, akan bercahaya. Daerah yang Islamnya bukan hanya di lisan, tetapi masuk ke kerja, pasar, sekolah, birokrasi, dan rumah tangga, akan menjadi daerah yang hidup. Dan bila Allah ridho, apa yang tampak mustahil bagi manusia bisa menjadi mudah.
Mari berhenti menjadi penonton. Mari berhenti hanya menjadi komentator. Mari berhenti mengulang keluhan yang sama dari tahun ke tahun. Mari turun ke gelanggang perbaikan, dengan niat yang bersih, cara yang benar, dan kesungguhan yang panjang.
Saya, Coach Kaffa, melalui Kaffa Business Coach, siap membantu, menolong, dan membersamai ikhtiar itu. Gratis, tanpa konsepsi proyek, tanpa kepentingan menggarong anggaran negara, cuma-cuma, lillahi ta‘ala. Silakan hubungi bila diperlukan.
Semoga Allah membersihkan niat kita, menguatkan langkah kita, mengampuni kelalaian kita, dan menjadikan NTB sebagai tanah yang bukan hanya indah alamnya, tetapi juga indah manusianya, indah amanahnya, indah akhlaknya, indah ikhtiarnya, dan indah peradabannya. Barakallahu fiikum.
#CoachKaffa
