Penulis : Aldo el-Haz Kaffa
OPINI - Seluruh keberadaan bukanlah peristiwa acak yang berdiri tanpa asal. Jagat semesta yang luas, langit yang bertingkat, bumi yang terbentang, laut yang dalam, gunung yang kokoh, angin yang bergerak, malam yang datang, siang yang menyingsing, serta kehidupan yang berdenyut pada setiap makhluk, semuanya menunjuk kepada satu kenyataan besar: ada Pencipta, ada Pengatur, ada Pemilik, ada Yang Maha Berkehendak. Dialah Allah ‘azza wa jalla.
Tidak ada satu pun yang benar-benar berdiri sendiri. Setiap benda memiliki sebab, setiap kejadian memiliki kadar, setiap kehidupan memiliki batas, dan setiap perjalanan memiliki tujuan. Alam raya ini bukan sekadar panggung kosong yang terjadi begitu saja, melainkan ciptaan yang penuh tanda. Di dalamnya ada hikmah, ukuran, susunan, keteraturan, dan keindahan. Dari benda langit yang bergerak dalam orbitnya sampai denyut jantung manusia yang terus bekerja tanpa pernah diminta, semuanya berbicara dalam bahasa ketundukan kepada Allah.
Di antara sekian banyak ciptaan itu, Allah menjadikan bumi sebagai tempat tinggal manusia. Bumi bukan sekadar planet biasa. Di sinilah manusia diuji, diberi amanah, diberi akal, diberi kehendak, diberi petunjuk, dan diberi kesempatan untuk mengenal Allah. Manusia bukan sekadar makhluk biologis yang makan, minum, bekerja, menikah, menua, lalu selesai. Manusia memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah hamba Allah, sekaligus kholifah di bumi.
Sebagai kholifah, manusia diberi tugas untuk memakmurkan bumi, menjaga keseimbangan, menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, dan menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah. Amanah ini bukan amanah kecil. Karena itulah manusia tidak dibiarkan tanpa petunjuk. Allah tidak menciptakan manusia lalu membiarkannya bingung menebak-nebak sendiri jalan hidupnya. Allah menurunkan wahyu, mengutus para Nabi dan Rosul, serta menjelaskan mana jalan terang dan mana jalan gelap.
Pada setiap kurun masa, selalu ada manusia pilihan yang diberi informasi langit dan diutus kepada umatnya. Mereka itulah para Nabi dan Rosul. Mereka datang bukan membawa ambisi pribadi, bukan membawa kepentingan duniawi, bukan pula sekadar mengajarkan etika sosial. Mereka datang membawa pesan paling mendasar: sembahlah Allah, jauhi thoghut, tunduklah kepada kebenaran, dan kembalilah kepada fithroh.
Risalah para Nabi pada intinya satu, yaitu tauhid. Nabi Adam, Nuh, Ibrohim, Musa, 'Isa, dan seluruh Nabi lainnya membawa panggilan yang sama: manusia harus mengenal Allah, menyembah-Nya, menaati-Nya, dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Lalu risalah itu disempurnakan dan ditutup dengan diutusnya Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah penutup para Nabi, rohmat bagi semesta alam, teladan sempurna bagi siapa saja untuk hidup lurus, mulia, dan selamat.
Maka, sebenarnya jalan hidup manusia itu tidak rumit. Yang membuatnya terasa rumit sering kali bukan ajarannya, melainkan hawa nafsu manusia sendiri. Islam itu sederhana dalam prinsip, luas dalam hikmah, dan indah dalam pengamalan. Cukup kenal Allah, imani Dia, taati perintah-Nya, jauhi larangan-Nya, ikuti Rosul-Nya, lalu istiqomah sampai datang batas usia. Hidup selesai dengan baik, mati dalam keadaan baik, lalu berlanjut kepada kehidupan yang lebih hakiki.
Inilah kesederhanaan yang agung. Manusia tidak diminta menciptakan sendiri makna hidupnya dari nol. Tidak diminta mengarang sendiri standar benar dan salah berdasarkan selera zaman. Tidak diminta mengejar dunia seolah-olah dunia adalah tujuan akhir. Manusia hanya diminta tunduk, berserah, percaya, dan taat kepada Allah. Itulah Islam. Itulah iman. Itulah jalan pulang.
Paket normal dan asli manusia adalah muslim yang mukmin. Muslim berarti berserah diri, tunduk, patuh kepada Allah. Mukmin berarti percaya penuh, yakin, membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan amal. Dalam pandangan Islam, manusia lahir di atas fithroh. Ia membawa kecenderungan asli untuk mengenal Allah, untuk mencintai kebenaran, untuk mencari makna, dan untuk tunduk kepada Yang Maha Sempurna.
Namun dalam perjalanan hidup, manusia bisa tertutup oleh lingkungan, hawa nafsu, kesombongan, trauma, syahwat, kepentingan, atau godaan dunia. Ada yang menerima cahaya, ada yang menolak. Ada yang terbuka hatinya, ada yang tertutup. Ada yang mendengar lalu tunduk, ada yang mengetahui namun membangkang. Semua itu berada dalam ilmu Allah, kehendak Allah, dan menjadi bagian dari ujian besar kehidupan manusia.
Di sinilah seorang muslim mukmin perlu memahami realitas manusia dengan jernih. Tidak semua orang menerima hidayah. Tidak semua orang mau tunduk. Tidak semua orang melihat dunia sebagaimana orang beriman melihatnya. Ada manusia yang hidup hanya dengan ukuran materi, kekuasaan, kesenangan, popularitas, atau pencapaian lahiriah. Ada yang menganggap kemajuan hanya sebatas teknologi, ekonomi, militer, gedung tinggi, sistem politik, atau kebebasan tanpa batas. Padahal semua itu, tanpa iman dan takwa, tetap menyisakan kekosongan paling mendasar dalam diri manusia. Tetapi memang itu dibuat oleh, keberadaan orang-orang tertutup (kafir) itu memang kehendak Allah.
Teknologi bisa dipelajari. Ilmu dunia bisa dikejar. Sistem bisa dibangun. Peradaban lahiriah bisa ditiru bahkan dilampaui. Tetapi iman tidak bisa digantikan oleh mesin. Takwa tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Ketundukan kepada Allah tidak bisa digantikan oleh kemajuan industri. Kebersihan jiwa tidak bisa digantikan oleh kemewahan kota. Manusia boleh sampai ke bulan, boleh menjelajah samudra, boleh membangun gedung pencakar langit, boleh menciptakan alat-alat canggih, tetapi bila ia tidak mengenal Allah, maka ia kehilangan pusat makna hidupnya.
Karena itu menjadi aneh bila muslim mukmin terlalu silau kepada peradaban yang tampak maju secara lahiriah tetapi kosong dari iman. Kagum kepada keteraturan, kedisiplinan, ilmu, teknologi, atau etos kerja suatu bangsa tentu boleh. Bahkan seorang muslim harus mampu mengambil pelajaran dari mana saja selama itu baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Namun silau secara batin, merasa rendah diri di hadapan bangsa yang tidak beriman, menganggap Islam sebagai penghambat kemajuan, atau merasa malu dengan identitas muslim, itu adalah masalah serius.
Seorang mukmin harus punya 'izzah. Bukan sombong, bukan merendahkan orang lain, bukan merasa otomatis lebih baik secara pribadi, tetapi sadar bahwa iman adalah nikmat tertinggi. Menjadi muslim adalah karunia besar. Mengenal Allah adalah kemuliaan. Mengikuti Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam adalah kehormatan. Memiliki al-Qur’an sebagai petunjuk adalah cahaya. Maka tidak pantas seorang muslim minder terhadap dunia, sebagaimana tidak pantas pula ia arogan hanya karena identitas keagamaannya.
Di sinilah keseimbangan Islam tampak indah. Kepada orang yang berbeda agama, Islam mengajarkan kejelasan sikap sekaligus keadaban. “Lakum dinukum wa liya din” — bagimu agamamu, bagiku agamaku. Prinsip ini bukan ajakan mencampuradukkan keyakinan, tetapi penegasan batas dengan cara yang bermartabat. Seorang muslim tidak perlu memaksa orang lain menerima iman, sebab hidayah milik Allah. Tetapi seorang muslim juga tidak boleh kehilangan keyakinan bahwa Islam adalah kebenaran.
Toleransi dalam Islam bukan berarti menganggap semua keyakinan sama benarnya. Toleransi berarti mampu hidup adil, berakhlak, tidak zalim, tidak memaksa, tidak menghina, dan tetap menjaga batas-batas iman. Muslim mukmin memahami bahwa manusia berbeda-beda. Ada yang beriman, ada yang belum beriman, ada yang menolak, ada yang mencari, ada yang bingung, ada pula yang memusuhi. Semua itu tidak membuat seorang mukmin kehilangan akhlak. Justru karena ia beriman, ia harus lebih lembut, lebih adil, lebih matang, dan lebih jelas dalam bersikap.
Islam bukan agama yang hanya indah dalam kitab, tetapi buruk dalam kenyataan. Bila Islam tampak buruk pada sebagian mata manusia, sering kali masalahnya bukan pada Islam, melainkan pada pemeluknya yang gagal menampilkan Islam dengan benar. Ini harus menjadi bahan muhasabah besar. Jangan sampai kebodohan kita membuat orang menjauh dari Islam. Jangan sampai kekasaran kita dianggap sebagai wajah Islam. Jangan sampai kemalasan kita dianggap sebagai ajaran Islam. Jangan sampai korupsi, dusta, pengkhianatan, dan kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang beridentitas muslim menjadi fitnah terhadap agama yang suci ini.
Seorang muslim tidak cukup hanya bangga menjadi muslim. Ia harus membuktikan keislamannya dalam kehidupan nyata. Iman tidak berhenti di lisan. Taqwa tidak cukup menjadi slogan. Cinta kepada Nabi tidak cukup diucapkan dalam majelis, tetapi harus terlihat pada akhlak, adab, cara bicara, cara berikhtiar, cara memimpin, cara berdagang, cara mengajar, cara bertetangga, cara bermedia sosial, dan cara memperlakukan orang yang lemah.
Bila seseorang adalah guru, jadilah guru muslim yang jujur, sabar, mencerdaskan, dan mengangkat martabat murid. Bila seseorang adalah pedagang, jadilah pedagang muslim yang amanah, tidak curang, tidak menipu, dan tidak mengambil hak orang lain. Bila seseorang adalah pemimpin, jadilah pemimpin muslim yang adil, takut kepada Allah, tidak rakus, tidak sewenang-wenang, dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat memperkaya diri. Bila seseorang adalah pekerja (pegawai atau karyawan) jadilah pekerja muslim yang disiplin, profesional, bertanggung jawab, dan tidak asal-asalan. Bila seseorang adalah orang tua, jadilah orang tua muslim yang penuh kasih, memberi teladan, dan menanamkan iman kepada anak-anaknya.
Inilah personifikasi keindahan Islam. Islam hadir bukan hanya dalam masjid, tetapi juga di kantor, pasar, sekolah, rumah, jalan raya, ruang rapat, ruang publik, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Islam bukan hanya tampak ketika seseorang sholat, tetapi juga ketika ia menepati janji, menjaga lisan, menghormati tamu, membayar utang, tidak menyakiti tetangga, mengurus keluarga, dan memperlakukan bawahan dengan manusiawi.
Islam adalah cinta bagi semesta, tetapi cinta itu harus terejawantah dalam amal. Rohmatan lil ‘alamin bukan sekadar kalimat indah untuk dikutip, melainkan tugas besar untuk diwujudkan. Seorang muslim harus menjadi rohmat bagi keluarganya, bukan sumber ketakutan. Menjadi rohmat bagi tetangganya, bukan sumber gangguan. Menjadi rohmat bagi masyarakatnya, bukan sumber kekacauan. Menjadi rohmat bagi profesinya, bukan pembawa keburukan. Menjadi rohmat bagi bangsa dan dunia, bukan beban peradaban.
Maka bersyukur menjadi muslim mukmin bukan berarti berhenti pada rasa bangga. Syukur harus melahirkan tanggung jawab. Bila Allah telah memberi cahaya, maka jangan hidup seperti orang yang rela berada dalam gelap. Bila Allah telah memberi petunjuk, jangan berjalan semaunya sendiri. Bila Allah telah memuliakan dengan Islam, jangan merendahkan diri dengan maksiat, kebodohan, kemalasan, dan akhlak buruk. Bila perempuan telah diizinkan menjadi muslimah (perempuan berserah patuh) jangan berbusana tidak longgar tidak menutupi seluruh badannya dan jangan warna mencolok yang malah menarik perhatian selain mahrom.
Kita perlu bergembira karena diberi iman. Tetapi kegembiraan itu harus melahirkan kesungguhan. Kita yakin bahwa Islam adalah jalan terbaik. Tetapi keyakinan itu harus melahirkan akhlak terbaik. Kita bangga menjadi umat Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kebanggaan itu harus membuat kita malu bila hidup kita justru mempermalukan ajaran beliau.
Jangan sampai orang mengenal Islam dari kemarahan kita, bukan dari kasih sayang kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari pertengkaran kita, bukan dari kebijaksanaan kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kebodohan kita, bukan dari kejernihan ilmu kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kemalasan kita, bukan dari kesungguhan kerja kita. Jangan sampai orang mengenal Islam dari kekerasan lisan kita, bukan dari kemuliaan akhlak kita.
Muslim mukmin sejati adalah manusia yang kokoh di dalam, lembut di luar, jelas dalam prinsip, luas dalam kasih, tinggi dalam cita-cita, rendah hati dalam pergaulan, dan istiqomah dalam ketaatan. Ia tidak silau oleh dunia, tetapi juga tidak lari dari tanggung jawab dunia. Ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang amal. Ia tidak membenci ilmu dan kemajuan, justru mengejarnya dengan niat ibadah. Ia tidak anti peradaban, tetapi ingin membangun peradaban yang beriman, bertaqwa, adil, dan bermartabat.
Pada akhirnya, hidup ini memang sederhana bagi orang yang diberi tawfiq. Dari Allah kita berasal, kepada Allah kita kembali. Di dunia kita diuji, di akhirat kita menuai. Nabi telah memberi teladan, al-Qur’an telah memberi petunjuk, Islam telah sempurna sebagai jalan hidup. Tugas kita adalah tunduk, percaya, taat, bersabar, bersyukur, dan terus memperbaiki diri sampai ajal datang.
Maka mari bersyukur dan bergembira karena kita adalah muslimin mukminin. Mari menjaga nikmat iman ini dengan ilmu, amal, dakwah, sabar, dan akhlaq mulia. Mari menjadi bukti hidup bahwa Islam itu indah, terang, masuk akal, penuh kasih, dan membawa kemuliaan. Mari berhenti mempermalukan Nabi dengan kebodohan, kemungkaran, kemalasan, dan akhlaq buruk kita sendiri. Mari menghadirkan Islam dalam wujud nyata: pada pekerjaan kita, keluarga kita, ucapan kita, keputusan kita, kepemimpinan kita, dan seluruh perjalanan hidup kita.
Karena Islam bukan hanya untuk diyakini, tetapi untuk dihidupi. Iman bukan hanya untuk disimpan di hati, tetapi untuk memancar dalam perilaku diri. Taqwa bukan hanya untuk disebut, tetapi untuk menjadi kompas dalam setiap pilihan. Dan hidup yang paling indah adalah hidup yang sejak awal hingga akhir berjalan dalam ketundukan kepada Allah.
Mengapa NTB Hanya Begini-Begini Saja?
Lalu kini, tetiba kita terperanjat. Seperti baru tersadar dari tidur panjang. Mengapa NTB hanya begini-begini saja dari waktu ke waktu? Mengapa daerah yang indah ini, yang kaya alamnya, besar potensinya, mulia masyarakatnya, kuat tradisi religiusnya, dan begitu sering disebut sebagai bumi seribu masjid, belum benar-benar melompat menjadi wilayah yang unggul, beradab, makmur, tertib, bersih, dan membanggakan?
Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan kalimat basa-basi. Tidak cukup dijawab dengan angka-angka statistik yang dipilih-pilih. Tidak cukup dijawab dengan baliho, seremoni, pidato, jargon pembangunan, festival, atau program-program yang terdengar megah tetapi tidak benar-benar menyentuh akar persoalan.
Kita harus berani berkata dengan jujur: bila sebuah masyarakat yang mengaku beriman tidak memancarkan kejujuran, amanah, disiplin, ilmu, kerja keras, kasih sayang, kebersihan, keadilan, dan tanggung jawab, maka ada yang tidak beres dalam keberagamaannya.
Dan bila daerah yang mayoritas penduduknya muslim, masjidnya banyak, majelisnya ramai, ceramahnya hidup, simbol-simbol keagamaannya kuat, tetapi kemiskinan masih menganga, pendidikan masih tertinggal, pelayanan publik masih mengecewakan, birokrasi masih lamban, lingkungan masih rusak, tata kelola masih kacau, dan amanah publik masih sering diperlakukan seperti milik pribadi atau kelompok, maka masalahnya bukan pada Islam. Masalahnya pada kita yang belum benar-benar berislam dan beriman.
Tanpa ragu, akar terdalamnya adalah karena kita belum sungguh-sungguh menjadikan Islam sebagai jalan hidup. Kita mungkin muslim secara identitas, tetapi belum tentu muslim secara mentalitas. Kita mungkin mukmin dalam pengakuan, tetapi belum tentu mukmin dalam keputusan, pekerjaan, kepemimpinan, transaksi, pelayanan, dan perilaku sehari-hari.
Islam kita sering berhenti di ruang ibadah, tetapi tidak ikut masuk ke ruang rapat. Islam kita hidup di mimbar, tetapi redup di kantor. Islam kita terdengar dalam khutbah, tetapi hilang dalam pengadaan barang dan jasa. Islam kita mengalun dalam doa, tetapi kalah oleh kepentingan, gengsi, transaksionalisme, dan rasa takut kehilangan jabatan.
Padahal iman yang benar tidak mungkin hanya menghasilkan manusia yang pandai berkata-kata. Iman yang benar harus melahirkan manusia yang amanah. Takwa yang benar tidak mungkin hanya menghasilkan air mata di majelis zikir. Takwa yang benar harus melahirkan keberanian menolak yang haram, malu mengambil yang bukan haknya, takut menzalimi rakyat, dan bersungguh-sungguh menyelesaikan urusan manusia.
Di sinilah letak keterperanjatan kita. NTB tidak kekurangan masjid. NTB tidak kekurangan acara agama. NTB tidak kekurangan tokoh yang pandai bicara agama. NTB tidak kekurangan slogan religius. Tetapi barangkali NTB kekurangan orang-orang yang benar-benar menjadikan iman sebagai sistem kendali diri. Kekurangan manusia yang ketika diberi amanah langsung gemetar karena ingat Allah. Kekurangan pejabat yang merasa kursinya bukan kehormatan, melainkan beban hisab. Kekurangan warga yang memahami bahwa membuang sampah sembarangan, melanggar antrean, malas bekerja, menipu dalam dagang, abai pada pendidikan anak, dan merusak fasilitas umum juga bagian dari kegagalan berislam.
Sebab Islam bukan hanya sholat. Islam juga amanah. Islam bukan hanya puasa. Islam juga menahan diri dari mengambil hak rakyat. Islam bukan hanya haji dan umroh. Islam juga tidak menyakiti tetangga, tidak mengkhianati janji, tidak mempermainkan jabatan, dan tidak menjadikan kekuasaan sebagai kendaraan keluarga, kelompok, atau kroni. Islam bukan hanya hafalan ayat. Islam juga keberanian menjalankan ayat. Islam bukan hanya mencintai Nabi dengan lisan. Islam juga malu mempermalukan Nabi dengan perilaku buruk.
Maka ketika kita bertanya mengapa NTB belum maju sebagaimana seharusnya, jangan buru-buru menunjuk keluar. Jangan hanya menyalahkan pusat, sejarah, geografi, anggaran, cuaca, investor, atau keadaan. Semua itu boleh dianalisis, tetapi jangan sampai menjadi tabir untuk menghindari muhasabah paling pokok: apakah kita sudah benar-benar menjadi masyarakat yang amanah?
Sebab daerah tidak rusak tiba-tiba. Daerah rusak pelan-pelan ketika amanah diremehkan. Ketika jabatan dianggap hadiah, bukan tanggung jawab. Ketika kekuasaan dianggap kesempatan membagi-bagi keuntungan, bukan sarana menegakkan keadilan. Ketika anggaran dipandang sebagai kue, bukan titipan rakyat. Ketika birokrasi sibuk melayani atasan, bukan melayani masyarakat. Ketika orang baik diam karena takut tidak dapat tempat. Ketika orang berilmu disingkirkan karena tidak pandai menjilat. Ketika yang dipilih bukan yang paling mampu, tetapi yang paling dekat, paling ramai pendukung, paling kuat modal, atau paling pandai memainkan citra.
Di titik itu, jangan heran bila pembangunan berjalan seperti kendaraan berat yang mesinnya batuk-batuk. Bergerak, tetapi lamban. Ada suara, tetapi sedikit hasil. Ada seremoni, tetapi kurang substansi. Ada laporan, tetapi rakyat masih merasakan hal yang sama: hidup tidak banyak berubah.
Padahal NTB memiliki modal yang luar biasa. Alamnya indah. Lautnya memesona. Gunungnya megah. Tanahnya subur. Budayanya kuat. Masyarakatnya tangguh. Anak-anak mudanya banyak yang cerdas. Potensi pariwisata, pertanian, peternakan, perikanan, ekonomi kreatif, pendidikan, dan spiritualitasnya sangat besar. Tetapi potensi sebesar apa pun akan tinggal potensi bila manusia yang mengelolanya tidak amanah, tidak berilmu, tidak disiplin, tidak jujur, dan tidak punya visi besar.
Inilah yang harus kita akui. Persoalan utama NTB bukan semata kekurangan sumber daya. Persoalan utamanya adalah kualitas manusia dan kualitas amanah. Dan dalam bahasa iman, kualitas manusia itu kembali kepada iman dan takwa yang nyata, bukan yang hanya dekoratif.
Bila warga benar-benar beriman, ia tidak akan merusak lingkungannya sendiri. Bila pedagang benar-benar beriman, ia tidak akan mengurangi timbangan. Bila guru benar-benar beriman, ia tidak akan mengajar asal hadir. Bila murid benar-benar beriman, ia tidak akan malas menuntut ilmu. Bila aparatur benar-benar beriman, ia tidak akan mempersulit rakyat demi keuntungan pribadi. Bila pemimpin benar-benar beriman, ia tidak akan tidur nyenyak sementara.
